Pengaruh Validasi Sosial terhadap Kesehatan Mental

  • 18 Feb 2026 14:42 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Di era media sosial seperti sekarang, banyak orang tanpa sadar mencari validasi dari orang lain. Validasi sosial bisa berupa pujian, komentar positif, jumlah “like”, atau pengakuan atas apa yang kita lakukan. Sekilas terlihat sepele, tetapi kebutuhan untuk diakui ternyata punya pengaruh besar terhadap kesehatan mental.

Pada dasarnya, manusia memang makhluk sosial. Kita ingin diterima, dihargai, dan dianggap penting oleh lingkungan sekitar. Ketika seseorang mendapat dukungan atau apresiasi, muncul perasaan senang dan percaya diri. Hal ini wajar dan bahkan bisa berdampak positif. Dukungan sosial yang sehat dapat meningkatkan rasa aman, memperkuat hubungan, dan membantu seseorang melewati masa sulit.

Masalah mulai muncul ketika validasi sosial menjadi satu-satunya sumber rasa percaya diri. Banyak orang merasa berharga hanya ketika unggahannya ramai respon, ketika dipuji, atau ketika mendapat perhatian. Jika respons yang diterima tidak sesuai harapan, perasaan kecewa, cemas, bahkan sedih bisa muncul. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kestabilan emosi.

Media sosial memperbesar fenomena ini. Setiap hari kita melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna, pencapaian karier, liburan mewah, hubungan harmonis, atau penampilan menarik. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri sendiri. Ketika merasa tertinggal, rasa tidak percaya diri bisa muncul. Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kenyataan sepenuhnya.

Ketergantungan pada validasi juga dapat membuat seseorang takut menjadi diri sendiri. Ada kecenderungan untuk menampilkan versi yang dianggap “paling disukai” orang lain. Lama-kelamaan, seseorang bisa merasa lelah karena terus berusaha memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini berisiko memicu stres dan kecemasan.

Di sisi lain, validasi sosial tidak selalu berdampak negatif. Dukungan yang tulus dari keluarga, teman, atau pasangan justru sangat penting bagi kesehatan mental. Mendapatkan dorongan saat gagal atau apresiasi atas usaha yang dilakukan dapat meningkatkan motivasi. Perbedaannya terletak pada sumber dan cara kita memaknainya. Validasi yang sehat membantu kita tumbuh, sementara validasi yang dicari secara berlebihan bisa melemahkan mental.

Agar tidak terjebak dalam lingkaran tersebut, penting untuk membangun rasa percaya diri dari dalam diri sendiri. Menghargai proses, menerima kekurangan, dan menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh penilaian orang.

Membatasi waktu penggunaan media sosial juga bisa membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Selain itu, membangun hubungan nyata di dunia offline dapat memberi dampak lebih mendalam. Percakapan langsung, dukungan nyata, dan kehadiran fisik sering kali lebih bermakna bagi kesehatan mental. Dengan begitu, kebutuhan akan validasi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dunia maya.

Pada akhirnya, keinginan untuk diakui adalah hal yang manusiawi. Namun, keseimbangan tetap diperlukan. Validasi sosial bisa menjadi penyemangat, tetapi tidak seharusnya menjadi penentu harga diri. Ketika seseorang mampu mengenali nilainya tanpa bergantung sepenuhnya pada penilaian orang lain, kesehatan mental pun akan lebih terjaga. (UGP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....