Bukittinggi

Kapten Sus Ridho Hidayat, Putra Pariaman Jalankan Misi Perdamaian di Lebanon

  • 28 Agt 2026 21:24 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Tyre Lebanon — Jauh dari Ranah Minang, Kapten Sus Ridho Hidayat, S. Ant., membawa nama Indonesia dalam misi perdamaian dunia di Lebanon. Senin (24/8), perwira TNI Angkatan Udara itu memimpin kegiatan Education Program Military Community Outreach Unit (MCOU) XXX-P Kontingen Garuda UNIFIL 2026 di Al-Masaken School, Tyre.

Bagi Ridho, kegiatan tersebut bukan sekadar kunjungan ke sekolah. Ada pesan yang ingin disampaikan melalui kehadiran pasukan perdamaian Indonesia, terutama kepada anak-anak yang menjadi bagian penting dari masa depan Lebanon.

Di hadapan para siswa, personel MCOU memperkenalkan UNIFIL serta menjelaskan secara sederhana peran pasukan perdamaian PBB dalam menjaga stabilitas di Lebanon Selatan. Namun, suasana segera mencair ketika anak-anak diajak menggambar, bernyanyi, dan menari bersama.

Tawa dan senyum anak-anak pun menjadi bagian dari diplomasi kecil yang dilakukan Kontingen Garuda.

“Respons positif dari pihak sekolah dan tingginya partisipasi siswa menunjukkan bahwa kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan,” ujar Ridho.

Putra asli Padang Pariaman, khususnya Sungai Sarik, Sumatera Barat, tersebut mengatakan kegiatan itu sekaligus memberikan kesempatan bagi personel MCOU untuk melihat secara langsung kondisi sekolah dan berkomunikasi dengan kepala sekolah, guru, serta para siswa.

Perjalanan Ridho hingga berada di Lebanon tidak datang secara tiba-tiba. Lahir dan tumbuh di Ranah Minang, ia menempuh pendidikan di SMAN 1 Lubuk Alung sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Antropologi Universitas Padjadjaran.

Kecintaannya terhadap dunia sosial dan komunikasi kemudian membawanya memasuki lingkungan militer. Ridho merupakan alumnus Sepa PK TNI Angkatan 27A Tahun 2020 di matra TNI Angkatan Udara. Pengalaman pendidikan dan penugasannya kemudian membentuk dirinya sebagai seorang perwira yang tidak hanya memahami aspek kedinasan, tetapi juga pentingnya membangun komunikasi dengan masyarakat.

Sebelum dipercaya melaksanakan misi perdamaian di Lebanon, Ridho berdinas di Lanud Sutan Sjahrir, Padang, dan menjabat sebagai Kepala Penerangan. Dari pangkalan udara yang berada di tanah kelahirannya itulah, kesempatan untuk mengemban tugas internasional mulai terbuka ketika ia mengikuti proses seleksi Satuan Tugas Luar Negeri UNIFIL.

Dari proses tersebut, Ridho menjadi satu-satunya personel TNI Angkatan Udara asal Ranah Minang yang lolos seleksi untuk bergabung dalam misi perdamaian dunia di Lebanon.

“Ini merupakan prestasi yang saya capai. Saya tidak menyangka dapat mengikuti Satgas Luar Negeri, khususnya dalam misi perdamaian dunia di Negara Lebanon,” ungkap Ridho.

Kini, ia tengah melaksanakan Misi Satgas Luar Negeri UNIFIL Lebanon 2026 dan tergabung dalam Military Community Outreach Unit (MCOU) XXX-P Kontingen Garuda. Penugasan tersebut menjadi pengalaman penting sekaligus kebanggaan tersendiri bagi dirinya sebagai putra daerah yang mendapat kesempatan membawa nama Indonesia di kancah internasional.

Menurut Ridho, kedekatan dengan masyarakat merupakan bagian penting dari misi perdamaian. Hubungan yang baik tidak selalu dibangun melalui forum resmi, tetapi juga melalui pertemuan sederhana dan interaksi langsung.

“Melalui sebuah senyuman, kebersamaan, dan perhatian kepada anak-anak, personel UNIFIL menunjukkan bahwa misi perdamaian bukan hanya tentang menjaga stabilitas, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan menumbuhkan harapan,” katanya.

Nilai tersebut pula yang menjadi bagian dari semangat MCOU dalam menjalankan berbagai kegiatan community outreach. Kehadiran personel di tengah masyarakat bukan hanya untuk memperkenalkan mandat UNIFIL, tetapi juga menciptakan ruang interaksi yang lebih dekat dan manusiawi.

Bagi Ridho, pengalaman berada di Lebanon memberikan perspektif baru tentang arti sebuah pengabdian. Jika sebelumnya ia menjalankan tugas penerangan dari Lanud Sutan Sjahrir di Padang, kini tugas tersebut membawanya jauh melintasi batas negara untuk menjadi bagian dari misi perdamaian PBB.

Dari sebuah sekolah di Tyre, Ridho dan rekan-rekannya membawa wajah lain Kontingen Garuda. Bahwa menjaga perdamaian bukan semata-mata berada di garis tugas, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, mendengar, berkomunikasi, dan membangun rasa percaya.

Bagi Indonesia, langkah kecil itu menjadi bagian dari pesan besar: perdamaian dapat tumbuh dari hubungan antarmanusia.

Dan bagi Ridho, putra Ranah Minang yang kini mengemban tugas jauh dari tanah kelahirannya, setiap senyum anak-anak Lebanon menjadi bagian dari pengabdian yang ia bawa dari Indonesia.

Dari Sungai Sarik, Padang Pariaman, langkahnya kini sampai ke Tyre, Lebanon. Seragam yang dikenakannya menjadi simbol pengabdian kepada negara, sementara senyum yang ia tebarkan menjadi pesan sederhana bahwa di mana pun berada, seorang prajurit perdamaian Indonesia selalu membawa semangat kemanusiaan.

Dari Ranah Minang ke Lebanon, dari seorang prajurit untuk perdamaian dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....