UIN Bukittinggi Gandeng Malaysia Ciptakan Kompas Pembelajaran GenAI

  • 10 Agt 2026 19:53 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Malaysia — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif atau Generative Artificial Intelligence (GenAI) seperti ChatGPT dan Claude kini mulai memasuki ruang-ruang akademik perguruan tinggi di Asia Tenggara.

Kehadiran teknologi tersebut memberikan kemudahan bagi mahasiswa dalam mencari referensi, mengembangkan gagasan hingga menyusun draf tulisan. Namun, perkembangan itu sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan tinggi, terutama dalam menjaga integritas akademik dan kualitas proses pembelajaran.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam studi lapangan bertajuk Navigating AI Usage in Southeast Asian English Education for Islamic Scholars yang berlangsung 4 hingga 8 Agustus 2026.

Studi tersebut melihat bagaimana mahasiswa semakin cepat beradaptasi dengan berbagai perangkat kecerdasan buatan, terutama dalam mata kuliah Academic Writing. Di sisi lain, para dosen menghadapi tantangan dalam menentukan batas antara penggunaan AI sebagai alat bantu pembelajaran dengan penggunaan yang dapat mengurangi kemandirian dan kejujuran akademik mahasiswa.

Riset lintas negara ini dipimpin Dr. Veni Roza bersama tim peneliti dengan melakukan pemetaan terhadap penggunaan GenAI di sejumlah perguruan tinggi Islam di Malaysia.

Penelitian tersebut tidak hanya melihat perkembangan penggunaan teknologi AI, tetapi juga berupaya mencari jalan keluar agar perkembangan teknologi dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai akademik dan moral keislaman.

Komitmen Universiti Islam Selangor

Pengumpulan data lapangan diawali dengan kunjungan tim peneliti ke Universiti Islam Selangor (UIS) di Bangi, Selangor.

Kedatangan tim peneliti disambut Dekan Fakulti Pendidikan UIS, Dr. Sapie. Dalam pertemuan tersebut, pihak dekanat menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan terhadap kebutuhan data penelitian.

Menurut Sapie, perkembangan teknologi membutuhkan respons bersama dari lembaga pendidikan Islam, khususnya dalam membangun sistem pembelajaran yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai moral dan tradisi keilmuan Islam.

Tim peneliti kemudian melakukan wawancara dengan sejumlah pengajar Fakulti Pendidikan UIS, di antaranya Suziana dan Shila yang mengampu mata kuliah Bahasa Inggris dan Komunikasi pada jenjang diploma maupun sarjana.

Dari wawancara tersebut terungkap adanya kekhawatiran para dosen terhadap semakin masifnya penggunaan GenAI oleh mahasiswa.

Kondisi tersebut terutama terlihat pada mata kuliah Academic Writing bagi mahasiswa semester tujuh yang sedang mempersiapkan skripsi. Kehadiran AI telah memberikan perubahan terhadap pola pembelajaran sekaligus sistem penilaian yang selama ini dilakukan dosen.

“Mahasiswa bergerak jauh lebih lincah dan adaptif dalam memanfaatkan AI. Sementara para dosen mulai merasa kewalahan karena belum adanya sistem pendampingan dan pelatihan resmi adaptasi kecerdasan buatan,” ujar anggota tim peneliti Dr. Veni Roza.

Dosen Perlu Adaptif

Menurut Dr. Veni Roza, salah satu persoalan yang dihadapi perguruan tinggi adalah belum tersedianya pelatihan resmi dan panduan yang secara khusus mengatur pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran.

“Para pengajar mulai merasa kewalahan. Kendala utamanya adalah belum adanya pelatihan resmi dan kurikulum adopsi AI dari otoritas kampus. Di sisi lain, mahasiswa cenderung jauh lebih cepat dan adaptif mengeksplorasi alat-alat baru tersebut,” ujarnya.

Untuk merespons kondisi tersebut, tim peneliti memperkenalkan dan melakukan uji coba perangkat lunak pemantau penggunaan kecerdasan buatan atau AI checking tool kepada para dosen UIS.

Perangkat tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen bagi dosen dalam melihat jejak penggunaan AI pada karya tulis mahasiswa.

Namun, penggunaan teknologi pendeteksi AI tidak cukup menjadi satu-satunya solusi. Perguruan tinggi juga perlu membangun pemahaman bersama mengenai bagaimana AI digunakan secara benar dalam proses pembelajaran.

Karena itu, fitur teknis dan panduan penggunaan AI yang diperoleh dari penelitian tersebut akan disusun menjadi sebuah handbook penggunaan AI bagi mahasiswa dan dosen di lingkungan Lembaga Pendidikan Tinggi Islam atau Islamic Higher Education Institutions (IHEI).

Diskusi di USIM

Setelah melakukan pengumpulan data di UIS, tim peneliti melanjutkan agenda penelitian ke Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) di Nilai, Negeri Sembilan.

Di USIM, kegiatan dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah akademisi bahasa Inggris, di antaranya Syakira, Ummi dan Fatin.

Diskusi tersebut membahas perkembangan penggunaan GenAI dalam pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan perguruan tinggi Islam.

Dari FGD tersebut terlihat bahwa persoalan AI tidak lagi hanya berkaitan dengan plagiarisme atau kecurangan akademik. Lebih dari itu, kehadiran GenAI telah membawa perubahan terhadap cara mahasiswa belajar, mencari pengetahuan dan menghasilkan karya akademik.

Dalam kondisi tersebut, dosen tidak hanya dituntut untuk menjadi penguji keaslian karya mahasiswa. Dosen juga harus mampu menjadi pembimbing dan navigator yang mengarahkan mahasiswa agar menggunakan AI secara kritis, analitis dan bertanggung jawab.

Riset lintas negara yang dipimpin Dr. Veni Roza tersebut diharapkan dapat menghasilkan sebuah handbook yang menjadi salah satu rujukan bagi perguruan tinggi Islam di Asia Tenggara dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan.

Kemajuan teknologi pada akhirnya tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi dunia pendidikan. Teknologi dapat menjadi instrumen untuk memperkuat proses pembelajaran apabila penggunaannya diarahkan dengan aturan, etika dan tanggung jawab akademik.

Dengan demikian, perkembangan GenAI dapat berjalan seiring dengan tradisi keilmuan perguruan tinggi Islam, tanpa menghilangkan nilai integritas, kejujuran dan tanggung jawab dalam menghasilkan karya ilmiah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....