Air Mata Wartawan Senior Bukittinggi Hafnipon Berbuah Tiga Anak Luar Biasa
- 02 Jul 2026 13:31 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Perancis - Tidak ada orang tua yang tidak ingin melihat anak-anaknya berhasil. Namun bagi wartawan senior Kota Bukittinggi, Hafnipon (68), kebahagiaan itu terasa begitu istimewa karena lahir dari perjalanan hidup yang penuh perjuangan, air mata, dan doa yang tak pernah putus.


Pria asal IV Angkek, Kabupaten Agam itu, bersama sang istri yang berasal dari Kayu Tanam dan mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di Pondok Pesantren Thawalib Parabek, kini dapat menikmati hasil dari perjuangan panjang mereka membesarkan tiga orang anak dengan penuh kasih sayang, disiplin, dan nilai-nilai agama.

Hari ini, ketiga buah hatinya telah berdiri tegak mengukir prestasi.
Putri sulung memilih jalan sebagai pengusaha dan telah sukses mengembangkan usahanya. Putra kedua mencatat prestasi yang bahkan tak pernah terlintas dalam benak sang ayah.
Ia berhasil memperoleh beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan doktor (S3) Teknik Nuklir di Polandia, sekaligus bekerja di negara tersebut.
Sementara putri bungsu, lulusan Sastra Inggris, dipercaya mengemban amanah sebagai Auditor pada Kantor BPK RI Perwakilan Sumatera Barat di Padang sebelumnya berdinas di BPK RI Perwakilan Riau di Pekan Baru

Di balik kebanggaan itu, tersimpan kisah perjuangan yang jauh dari kata mudah.
Hafnipon mengenang masa-masa ketika profesi wartawan belum mendapat penghargaan sebagaimana sekarang.
Bahkan, menurutnya, ada masa ketika wartawan dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.
"Dulu menjadi wartawan bukan profesi yang dibanggakan. Bahkan ada yang enggan menjadikan wartawan sebagai menantu idaman karena dianggap masa depannya tidak jelas," kenangnya dengan senyum yang menyimpan banyak cerita.
Namun cibiran itu tidak pernah mematahkan semangatnya. Bersama sang istri, ia memilih tetap berjalan di atas jalan kejujuran. Penghasilan yang tidak selalu besar bukanlah alasan untuk menyerah. Mereka percaya, yang terpenting bukan banyaknya rezeki, melainkan keberkahannya.

Rumah sederhana mereka menjadi tempat tumbuhnya mimpi-mimpi besar. Sang istri dengan penuh kesabaran mendampingi pendidikan anak-anak setiap hari, menanamkan kedisiplinan, akhlak, serta semangat belajar tanpa mengenal lelah.
"Dalam mendidik anak, saya selalu percaya bahwa rezeki yang dibawa pulang ke rumah tidak tergantung besar atau kecilnya. Yang paling penting adalah rezeki itu berkah," tutur Hafnipon.
Prinsip sederhana itulah yang menjadi pegangan keluarga mereka selama puluhan tahun.
Tak pernah sekalipun Hafnipon membayangkan salah satu anaknya akan menempuh pendidikan doktor hingga ke Eropa. Baginya, ketika dahulu anak-anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana saja, rasa syukur sudah memenuhi dadanya.
"Saya tidak pernah bermimpi anak saya bisa kuliah S3 dengan beasiswa penuh sampai ke Polandia. Dulu, lulus S1 saja saya sudah sangat bersyukur. Ini benar-benar anugerah dari Allah SWT," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Menurutnya, kecerdasan putra keduanya memang sudah terlihat sejak kecil. Ia dikenal rajin belajar dan hampir selalu menjadi juara kelas. Namun Hafnipon tidak pernah memaksa anak-anaknya mengejar prestasi. Ia hanya berusaha memberikan teladan tentang kejujuran, kerja keras, dan kesabaran.
Kini, dua dari tiga anaknya telah membangun rumah tangga masing-masing, yakni putri pertama dan putri ketiga. Sementara putra keduanya masih menyelesaikan studi doktoral di Polandia sambil bekerja.
Bagi Hafnipon, seluruh pencapaian itu bukanlah hasil jerih payahnya seorang diri.
Ia mengaku keberhasilan anak-anaknya tidak lepas dari peran besar sang istri yang dengan penuh ketelatenan mendidik mereka sejak kecil.
"Kalau saya sibuk di lapangan mencari berita, istri saya yang lebih banyak membimbing mereka belajar, menanamkan disiplin dan akhlak. Saya sangat bersyukur memiliki pendamping hidup seperti beliau," ungkapnya.
Di usia yang kini menginjak 68 tahun, Hafnipon tidak lagi mengejar kemewahan. Baginya, melihat anak-anak hidup mandiri, berakhlak baik, dan bermanfaat bagi orang lain adalah kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan materi.
Ia pun menitipkan pesan kepada para orang tua agar tidak pernah merasa rendah diri terhadap profesi yang dijalani.
"Jangan pernah malu dengan pekerjaan yang halal. Apa pun profesinya, selama dijalani dengan jujur dan sungguh-sungguh, Allah pasti akan membuka jalan. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Tugas kita hanya terus berusaha, berdoa, dan mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang," pesannya.
Kisah Hafnipon menjadi bukti bahwa kesuksesan seorang anak tidak selalu lahir dari keluarga berada. Ia tumbuh dari rumah yang dipenuhi doa, dari rezeki yang sederhana namun berkah, dari ayah yang bekerja tanpa mengenal lelah, dan dari seorang ibu yang tak pernah berhenti mendidik dengan cinta.
Karena pada akhirnya, warisan terbesar orang tua bukanlah harta yang melimpah, melainkan anak-anak yang mampu menjaga nama baik keluarga, mengabdi kepada bangsa, dan menjadi kebanggaan hingga akhir hayat. (JM/RRI BKT)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....