2 Dosen FIP UNP Uji Nalar Mahasiswa di Panggung internasional ISRF
- 22 Jun 2026 09:01 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Ruang akademik sesungguhnya bukan sekadar tempat bertukar angka dan teori, melainkan kawah candradimuka bagi lahirnya solusi atas kegelisahan zaman. Semangat inilah yang menguar kuat dalam gelaran International Student Research Forumke-2 (ISRF-2) /Forum Riset Mahasiswa Internasional tahun 2026.
Mengusung tema besar "Cultivating Intellect, Preserving Nature, and Upholding Ethics in a Tech-Driven World", forum ilmiah ini sukses menjadi panggung bagi para ilmuwan muda lintas negara untuk merespons disrupsi digital dan krisis ekologi global lewat nalar kritis.
Sejak genderang forum ditabuh pada 23 April hingga puncaknya 4 Juni 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, atmosfer intelektual begitu terasa. Mahasiswa dari berbagai penjuru domestik dan internasional saling adu gagasan. Mulai dari tuan rumah UIN Bukittinggi, UIN Imam Bonjol Padang, STIKes Indonesia, hingga menyeberang batas negara ke Universiti Islam Selangor (Malaysia) dan Universitas Münster (Jerman).
Menyaring artikel ilmiah yang masuk tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan ketajaman intuisi dan kedalaman akademis untuk memisahkan ide yang sekadar ikut-ikutan dengan gagasan yang benar-benar bernas. Di sinilah dewan panelis pakar mengambil peran krusial: menguji metodologi, menajamkan pisau analisis, dan memberikan arah bagi riset-riset masa depan.
Di antara deretan panelis yang mengawal jalannya forum, hadir dua sosok srikandi akademisi dari Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (FIP UNP). Mereka adalah Dr. Nur Azmi Alwi dan Yesni Yenti, M.Pd.—yang sehari-hari juga mengemban amanah sebagai Ketua Program Studi Luar Kampus Utama Departemen PGSD Sawahlunto. Keduanya dipercaya menjadi panelis utama yang menggawangi kluster Ilmu Pendidikan.
Duduk di kursi penguji, Dr. Nur Azmi Alwi menangkap sebuah potret jamak dari generasi periset hari ini: sebuah kegamangan sekaligus peluang di era kecerdasan buatan. Bagi Dr. Nur Azmi Alwi, ketajaman metodologi dan orisinalitas berpikir adalah benteng terakhir yang tidak boleh runtuh oleh kemudahan teknologi.
"Kami melihat antusiasme riset yang luar biasa dari para ilmuwan muda ini. Namun, tantangan terbesar mereka saat ini adalah bagaimana menjaga kedalaman analisis dan kejujuran ilmiah di tengah banjir informasi digital. Forum seperti ISRF-2 ini sangat krusial untuk melatih daya kritis, memastikan metodologi yang digunakan kokoh, serta membimbing mereka agar tidak terjebak pada kesimpulan yang instan atau bias," ungkap Dr. Nur Azmi reflektif.
Kejelian serupa juga dirasakan oleh Yesni Yenti, M.Pd. Ia menangkap adanya lompatan inovasi yang menyegarkan dalam cara para presenter merespons dinamika ruang kelas kontemporer. Ada optimisme bahwa masa depan pendidikan berada di tangan yang tepat.
"Ide-ide yang disajikan para presenter sangat segar dan kontekstual. Mereka tidak hanya terjebak pada teori konvensional, tetapi berani mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital dengan pendekatan humanis dan nilai-nilai lokal untuk menyelesaikan problem di ruang kelas. Ini menunjukkan bahwa generasi peneliti muda kita memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan lanskap pendidikan masa depan," tutur Yesni.
Kehadiran para panelis ini senada dengan visi besar yang ingin dicapai oleh universitas. Wakil Rektor Urusan Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama UIN Bukittinggi, Dr. Edi Rosman, menjelaskan bahwa forum ini memang dirancang untuk mempertemukan perspektif lokal dengan global.
Pada pertemuan puncak, forum ini bahkan menghadirkan Frans Dokman, peneliti senior dari Nijmegen Institute for Mission Studies di Radboud University, Belanda, yang membagikan formula penting dalam menghadapi bias riset global.
Sebagai penutup dari sebuah perayaan akal sehat, ISRF-2 memuncaki acaranya dengan penganugerahan penghargaan untuk kategori Best Paper dan Best Presenter. Sebuah apresiasi tulus bagi para peneliti muda yang berhasil melewati saringan ketat dan ujian mental dari para panelis, demi membawa pulang bukan sekadar piala, melainkan sebuah integritas ilmiah yang teruji.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....