DMDI Tiongkok Usul Aksara Jawi di Jam Gadang
- 13 Jun 2026 05:57 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Menara Jam Gadang yang berdiri kokoh di jantung Kota Bukittinggi berpotensi tampil semakin anggun menjulang dengan sentuhan syiar Islam yang kental. Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) cabang Tiongkok, Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan, mengajukan usulan visioner kepada Pemerintah Kota Bukittinggi untuk menyematkan ornamen aksara Jawi (Arab-Melayu) pada landmark ikonik Sumatra Barat tersebut. Langkah ini dinilai bukan sekadar tempelan dekoratif, melainkan upaya strategis mempertegas identitas Ranah Minang yang religius sekaligus mempercantik estetika kota tanpa mengubah struktur asli bangunan bersejarah peninggalan era kolonial itu.
Lewat rilis usulannya yang diterima RRI, Jumat (12/6/2026), Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan mengusulkan penulisan teks "Jam Gadang" serta fondasi filosofi Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, dalam guratan kaligrafi Jawi yang indah. Tokoh Muslim Tiongkok ini menilai, sentuhan seni tersebut sangat selaras dengan bahasa kuno dan nilai tradisional lokal, sekaligus merepresentasikan kemegahan peradaban Islam yang telah lama mengakar di Sumatra Barat.

Kehadiran aksara Jawi ini memiliki argumentasi historis yang kuat sebagai jembatan memori kolektif bangsa, mengingat aksara Arab-Melayu merupakan medium literasi utama diplomasi, perdagangan, dan penyebaran ilmu pengetahuan di Nusantara sebelum asimilasi aksara Latin. Dengan mengembalikan aksara ini ke ruang publik, Jam Gadang tidak hanya memperkuat nilai spiritualitas objek wisata, tetapi juga menjadi magnet baru bagi pelancong mancanegara, khususnya dari rumpun Melayu dan Timur Tengah yang mencari otentisitas budaya yang berkelanjutan.
Gagasan ini mengemuka di sela-sela kehadiran Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan dalam pameran tunggal kaligrafi miliknya pada perhelatan International Minang Festival Literacy (IMFL-4) yang digelar pekan lalu (3–7 Juni 2026) di Bukittinggi.
Menegaskan kapasitas akademis dan diplomasinya, beliau juga hadir sebagai pembicara kunci pada Seminar Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 5 Juni 2026 yang menjadi rangkaian inti acara tersebut. Selama menunaikan agenda kebudayaan di Kota Wisata itu, Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan didampingi secara intensif oleh mitra risetnya, Dr. Irwandi selaku Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Albert Nashir, dosen Universitas Deztron Indonesia, serta Ali Rahman, MH., Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Bukittinggi, yang turut mengkaji dampak pelestarian ini terhadap ekosistem ekonomi kreatif lokal.
Sebagai wujud keseriusan dari usulannya, Prof. Adj. Yusuf Liu Baojan bahkan telah menyiapkan sketsa desain kaligrafi hasil goresan tangannya sendiri sebagai referensi awal bagi pemerintah daerah. Keberadaan naskah fisik ini memperkuat argumentasi bahwa modernisasi tata kota tidak harus menumbalkan akar tradisi, melainkan bisa berjalan beriringan melalui rekayasa visual yang respektif terhadap sejarah. Ia berharap gagasan luhur ini dapat didiskusikan lebih lanjut bersama segenap pemangku kebijakan dan departemen terkait di Pemkot Bukittinggi.

Jika rencana ini mewujud, Jam Gadang tidak sekadar menjadi menara penunjuk waktu mekanis, melainkan bertransformasi menjadi monumen hidup yang menyuarakan keharmonisan adat, budaya, dan tauhid ke panggung dunia.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....