UIN Bukittinggi Kawal Dialog Iman dan Krisis Ekologi

  • 05 Jun 2026 08:28 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi — Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi kembali mencatatkan langkah strategis di panggung internasional. Bukan sekadar bergabung sebagai anggota, UIN Bukittinggi resmi dipercaya menjadi tuan rumah gelaran bergengsi Pertemuan Tahunan Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) 2026.

Forum ilmiah yang berlangsung di kampus UIN Bukittinggi pada 3-4 Juni 2026 ini mengusung tema krusial yang menyentuh urat nadi kemanusiaan global: “Living in a Changing World: Religion, Ecology, and Responsibility” (Hidup di Dunia yang Berubah: Agama, Ekologi, dan Tanggung Jawab).

Forum internasional ini menjadi magnet bagi para pemikir dunia. Sejumlah pakar kenamaan lintas negara dikonfirmasi hadir langsung di Ranah Minang, di antaranya Prof. Simone Sinn dari Universitas Münster Jerman, Prof. Frans Wijsen dari Radboud University Nijmegen Belanda, dan Koen Broersma yang juga dari Belanda. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya kolaborasi lintas iman dalam merespons perubahan iklim dan tanggung jawab moral global.

Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, menegaskan bahwa mandat sebagai tuan rumah ini merupakan ikhtiar konkret kampus untuk membumikan wajah Islam yang rahmatan lil 'alamin di level dunia. Menurutnya, di tengah dunia yang berubah, agama tidak boleh pasif dan harus hadir menawarkan solusi atas krisis lingkungan.

"Dunia sedang menghadapi tantangan ekologis yang berat. Melalui Pertemuan Tahunan NICMCR ini, kita ingin menegaskan bahwa Islam dan Kristen memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga kelestarian bumi. Dialog ini bukan lagi sekadar teologis, tapi sudah menyentuh aksi nyata menyelamatkan ciptaan Tuhan," jelas Prof. Silfia, Selasa (2/6/2026).

Tanggung Jawab Lintas Iman

NICMCR, yang mengakar sejak 2010, merupakan jejaring akademisi dan tokoh agama dari Indonesia dan Belanda yang konsisten membedah isu-isu strategis. Pada pertemuan tahun ini, fokus diarahkan pada integrasi nilai agama dalam mengatasi keadilan ekologi, pendidikan, dan kesetaraan di tengah arus perubahan global.

Koordinator NICMCR Belanda, Yus Sa’diyah-Broersma, mengapresiasi kesiapan UIN Bukittinggi. Ia menilai, kearifan lokal Minangkabau yang sangat menghormati alam—tercermin dalam falsafah Alam Takambang Jadi Guru—menjadi modal spiritual yang sangat kaya bagi jalannya konferensi ini.

"Kita hidup di dunia yang rapuh oleh perubahan iklim dan polarisasi. Kehadiran para akademisi dan pakar internasional seperti Prof. Simone Sinn, Prof. Frans Wijen, dan Koen Broersma di Bukittinggi membuktikan bahwa krisis ini membutuhkan pemikiran kolektif yang jujur antara komunitas agama dan ilmuwan," ungkap Yus Sa’diyah.

Pusat Keunggulan Ekoliterasi

Sementara itu, Kepala Pusat Hubungan Internasional (International Office) UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, mengungkapkan bahwa persiapan matang telah dilakukan untuk menyambut para delegasi dan pembicara internasional yang mendarat langsung di Bukittinggi. Ditambahkannya, untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada siapa saja yang berminat mengikuti acara ini, pihaknya menyediakan link zoom meeting dengan meeting ID: 7879881217 dan Passcode: Tipd2025.

Forum dua hari ini diproyeksikan menjadi ruang perjumpaan ilmiah yang dinamis, memadukan pendekatan iman dan sains untuk merumuskan rekomendasi praktis bagi pelestarian lingkungan.

"Menjadi tuan rumah pertemuan tahunan NICMCR ini adalah momentum besar. Agenda ini sekaligus memperkokoh posisi UIN Bukittinggi sebagai center of excellence (pusat keunggulan) dalam kajian moderasi beragama dan ekoliterasi Islam di kancah internasional," pungkas Irwandi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....