Menembus Bayang Rudal, Tawakal Mengantar Hafni Pon ke Amsterdam
- 01 Jun 2026 16:52 WIB
- Bukittinggi
Oleh; Hafni Pon
( Wartawan Senior Sumatera Barat )
RRI.CO.ID,Amsterdam - Dua hari menjelang keberangkatan, hati ini tidak sepenuhnya tenang. Di tengah persiapan perjalanan menuju Eropa, pikiran justru dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan. Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang masih diliputi ketegangan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat rasa khawatir sulit dihindari.
Berbagai pemberitaan internasional yang muncul silih berganti di layar televisi menghadirkan gambaran yang mengusik ketenangan. Serangan balasan, ancaman militer, hingga peringatan keamanan penerbangan menjadi konsumsi harian yang tanpa sadar memengaruhi perasaan.
Sebagai seorang ayah dan kakek yang akan melakukan perjalanan bersama keluarga, kekhawatiran itu terasa begitu manusiawi. Bagaimana jika terjadi sesuatu di udara? Bagaimana jika pesawat yang ditumpangi harus menghadapi situasi darurat akibat konflik yang belum benar-benar reda? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam benak.
Namun di balik segala kekhawatiran tersebut, ada satu hal yang memberikan kekuatan: keyakinan bahwa setiap perjalanan berada dalam genggaman Allah SWT.
Semua persiapan sebenarnya telah dilakukan jauh-jauh hari. Anak-anak telah mengatur jadwal keberangkatan, memesan tiket penerbangan, menyiapkan dokumen perjalanan, hingga memastikan seluruh kebutuhan keluarga tersedia dengan baik. Tidak ada alasan untuk membatalkan perjalanan yang telah direncanakan begitu matang.
Akhirnya, keputusan pun diambil. Dengan mengucapkan bismillah dan penuh tawakal, perjalanan panjang menuju Eropa dimulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.
Maskapai yang digunakan mengharuskan transit di salah satu negara kawasan Timur Tengah sebelum melanjutkan penerbangan menuju Belanda. Jalur tersebut memang menjadi rute yang lazim digunakan banyak penerbangan internasional dari Asia menuju Eropa.
Pesawat berbadan lebar Airbus yang membawa kami perlahan meninggalkan landasan. Meski masih menyimpan kecemasan, ada sedikit rasa tenang ketika menyadari bahwa penerbangan internasional dengan pesawat besar umumnya lebih stabil dibandingkan penerbangan domestik yang sering kami alami.
Jam demi jam berlalu. Kabin pesawat terasa nyaman. Penumpang mulai menikmati perjalanan masing-masing. Sebagian tertidur, sebagian menonton film, dan sebagian lagi sekadar menikmati pemandangan dari balik jendela.
Namun ketika layar monitor di depan kursi menunjukkan posisi pesawat mulai memasuki kawasan Timur Tengah, pikiran kembali terusik.
Nama Selat Hormuz muncul di layar. Kawasan strategis yang selama beberapa pekan terakhir menjadi perhatian dunia karena berada di sekitar wilayah konflik. Jantung seakan berdetak sedikit lebih cepat.
Ingatan kembali melayang pada berita yang ditonton dua hari sebelumnya. Saat itu media internasional memberitakan adanya serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Salah satu negara yang disebut-sebut dalam pemberitaan itu adalah Uni Emirat Arab, lokasi transit penerbangan yang akan kami singgahi.
Mata menjadi lebih awas. Telinga lebih peka terhadap setiap informasi dari awak kabin. Pikiran terus bertanya dalam diam, "Apakah semuanya akan baik-baik saja?"
Di tengah kegelisahan itu, pandangan saya tertuju kepada keluarga yang duduk berdekatan. Wajah istri terlihat tenang. Anak-anak tampak menikmati perjalanan. Cucu-cucu bahkan sesekali tertawa kecil melihat hiburan yang tersedia di layar kursi.
Pemandangan sederhana itu ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.
Ketenangan mereka perlahan menular. Kekhawatiran yang semula memenuhi pikiran mulai berkurang sedikit demi sedikit. Saya menyadari bahwa rasa takut tidak boleh mengalahkan keyakinan.
Bukankah sejak awal perjalanan ini telah dimulai dengan doa?
Bukankah keselamatan bukan semata ditentukan oleh teknologi, kekuatan negara, atau kecanggihan sistem keamanan, melainkan atas izin Allah SWT?
Perjalanan panjang itu sesungguhnya bukan sekadar wisata keluarga. Ada tujuan yang jauh lebih bermakna.
Kami hendak menuju Polandia, tempat salah seorang anak kami tengah menyelesaikan pendidikan. Insya Allah, dalam waktu yang tidak lama lagi ia akan menuntaskan masa studinya. Sebagai orang tua, tentu ada kebahagiaan tersendiri dapat menyaksikan secara langsung perjuangan dan pencapaiannya.
Karena berbagai pertimbangan administrasi dan pengurusan visa, Belanda dipilih sebagai pintu masuk ke kawasan Eropa sebelum melanjutkan perjalanan menuju Polandia.
Setelah transit dan kembali melanjutkan penerbangan, perjalanan menuju Amsterdam berlangsung relatif lancar. Waktu tempuh yang hampir sama dengan penerbangan Jakarta-Dubai terasa lebih ringan karena hati mulai dipenuhi rasa optimistis.
Hingga akhirnya, pada Minggu siang waktu setempat, pesawat Emirates bertingkat yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara Amsterdam.
Saat roda pesawat menyentuh landasan, muncul rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Semua kecemasan yang menyertai sejak sebelum keberangkatan perlahan menghilang. Tidak ada sirene darurat. Tidak ada gangguan penerbangan. Tidak ada peristiwa yang dikhawatirkan terjadi.
Yang ada hanyalah rasa syukur mendalam karena Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan bersama orang-orang tercinta.
Pengalaman ini kembali mengingatkan bahwa hidup pada hakikatnya adalah perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian. Manusia boleh merencanakan, menghitung risiko, dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Namun pada akhirnya, setiap langkah tetap berada dalam kuasa Sang Pencipta.
Sebagai seorang Muslim, keyakinan itu menjadi pegangan yang menenangkan hati. Rezeki, pertemuan, perjalanan, bahkan maut sekalipun telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Tugas manusia hanyalah berikhtiar sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
Kini sebagian perjalanan keluarga kami telah berhasil dilalui dengan aman dan lancar. Masih ada perjalanan berikutnya menuju Polandia yang menanti. Masih ada momen-momen berharga yang akan dijalani bersama keluarga.
Semoga setiap langkah berikutnya senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT. Semoga perjalanan ini menjadi perjalanan yang membawa keberkahan, mempererat ikatan keluarga, serta menambah rasa syukur atas setiap nikmat yang telah diberikan-Nya.
Dan di tengah dunia yang kerap dipenuhi ketidakpastian, mungkin itulah pelajaran terbesar yang kami peroleh dari perjalanan ini: bahwa ketenangan sejati lahir dari keyakinan dan tawakal kepada Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....