Menanti Dzulhijjah tanpa Konflik Batin Melalui Kalender Global
- 31 Mar 2026 14:10 WIB
- Bukittinggi
Oleh: Dr. Irwandi Nashir
Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
Ramadan baru saja berlalu, meninggalkan gema takbir yang masih terasa hangat. Sudah sepekan pula kita berada di bulan Syawwal, masa di mana silaturahmi masih terus terjalin di tengah hangatnya suasana Lebaran. Namun, roda waktu hijriah tak pernah berhenti berputar; setelah Syawal, kita akan memasuki Dzulqa’dah, dan tentu yang kini mulai dinanti-nantikan adalah kepastian kapan 1 Dzulhijjah tiba.
Di balik antusiasme menyambut Idul Adha, sebuah pertanyaan klasik yang kerap memicu perdebatan otoritas kembali menyeruak: "Apakah kita akan berlebaran di hari yang sama?"
Namun, di balik layar kaca yang menampilkan sidang-sidang penetapan tersebut, tersimpan realitas psikologis yang jarang tersentuh: kecemasan generasi muda. Temuan terbaru dari para peneliti mengungkap bahwa perbedaan penetapan awal Ramadan, Syawwal, hingga Dzulhijjah ternyata bukan sekadar kajian fiqih di tingkat ulama, melainkan pemicu konflik batin yang nyata bagi remaja. Bagi mereka, ketidakpastian ini menciptakan pertentangan batin (disonansi kognitif) . Ada beban mental ketika identitas keagamaan mereka dipaksa memilih satu di antara dua "kebenaran" yang sering kali berbenturan di lingkungan pergaulan maupun keluarga.
Dalam fase pencarian jati diri, remaja membutuhkan stabilitas. Ketidakteraturan jadwal ibadah kolektif ini, bagi sebagian besar generasi Z, dirasakan sebagai ketidakteraturan peradaban yang melelahkan.
Apa Itu KHGT?
Di tengah kegelisahan itulah, Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) hadir sebagai tawaran solutif. KHGT bukanlah sekadar kalender biasa, melainkan sistem penanggalan yang didasarkan pada Prinsip Satu Hari Satu Tanggal di Seluruh Dunia. Jika selama ini umat Islam terfragmentasi oleh konsep Matla’* (wilayah keberlakuan hilal) yang bersifat lokal atau nasional, KHGT melampaui batas-batas geopolitik tersebut.
Secara teknis, KHGT yang diinisiasi Muhammadiyah mengacu pada syarat-syarat astronomis yang presisi:
- Kesatuan Global: Seluruh dunia dipandang sebagai satu kesatuan wilayah (satu matla’).
- Parameter Astronomis: Bulan baru (awal bulan) dimulai apabila di bagian bumi mana pun telah terjadi konjungsi (ijtima’) sebelum pukul 00:00 Universal Time (UT), dan tinggi hilal sudah berada di atas 5 derajat serta jarak sudut (elongasi) bulan-matahari minimal 8 derajat.
- Kepastian Prediktif: Karena berbasis pada perhitungan sains (hisab), tanggal-tanggal penting dapat diketahui hingga puluhan tahun ke depan, layaknya kalender Masehi.
Titik Jenuh Generasi Digital
Angin perubahan mulai berembus dari ruang akademik. Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) baru saja merilis laporan survei nasional bertajuk *“Muhammadiyah di Mata Anak Muda” pada Senin (30/3/2026). Hasilnya menjadi oase bagi kegelisahan tersebut: mayoritas anak muda kini mendambakan kepastian melalui KHGT.
Data survei terhadap 758 responden berusia 17–40 tahun menunjukkan angka yang mencolok: 82,9 persen menyatakan setuju terhadap inisiasi KHGT. Kepala PSKP UAD, Azaki Khoirudin, menangkap fenomena ini sebagai sinyal kejenuhan. “Anak muda tampaknya sudah jenuh dengan perdebatan penentuan Lebaran setiap tahun. Survei ini menunjukkan bahwa mayoritas telah menerima dan mendukung KHGT sebagai solusi,” tegas Azaki.
Sains sebagai Jembatan Spiritual
Mengapa KHGT begitu memikat bagi Milenial dan Gen Z? Jawabannya terletak pada karakter mereka yang menyukai kepraktisan dan rasionalitas. KHGT memadukan dalil keagamaan dengan sains modern. Bagi mereka, iman tidak perlu dipertentangkan dengan akurasi data.
Dengan KHGT, umat Islam di seluruh dunia—dari Bukittinggi hingga New York—bisa merencanakan ibadah dan libur mereka dengan tenang. Sinkronisasi antara sains dan iman inilah yang dianggap sebagai solusi modern atas persoalan klasik umat. Azaki Khoirudin benar ketika menyebut bahwa tantangan ke depan bukanlah penolakan, melainkan edukasi. Angka "tidak tahu" yang lebih besar dari angka penolakan (5,4%) menunjukkan bahwa visi besar ini masih memerlukan sosialisasi yang masif.
Menuju Peradaban Islam yang Tertib
Sebagai pendidik yang banyak berinteraksi langsung dengan mahasiswa dan aktif di Persyarikan Muhammadiyah, saya melihat fenomena ini sebagai fajar baru bagi peradaban Islam. Kita sedang bergerak menuju masa di mana perbedaan tidak lagi dieksploitasi sebagai konflik batin, melainkan diselesaikan melalui konsensus ilmu pengetahuan.
KHGT hadir bukan untuk menegasikan tradisi, melainkan untuk menyempurnakan cara kita beragama di tengah dunia yang kian tanpa batas. Sudah saatnya, hilal Dzulhijjah tidak lagi ditunggu dengan kecemasan akan perpecahan, melainkan disambut dengan senyum kepastian yang terencana. Karena bagi anak muda kita, ibadah yang khusyuk dimulai dari pikiran yang tenang—bebas dari silang sengkarut penanggalan yang tak kunjung usai. Sudah saatnya kita memberikan kado kepastian bagi masa depan mereka.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....