Artis Sumbar Dendangkan Lagu Minang di Malaysia

  • 30 Mar 2026 21:26 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Malaysia - Eksistensi budaya Minangkabau di Malaysia terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sebagai wilayah dengan populasi keturunan Minangkabau terbesar di luar Sumatera Barat, keberadaan mereka tersebar luas di sejumlah negeri seperti Selangor, Negeri Sembilan, Perak, hingga Johor. Diperkirakan jumlahnya mendekati satu juta orang, menjadikan komunitas ini sebagai kekuatan budaya yang tetap solid mempertahankan adat dan tradisi leluhur.

Salah satu bentuk pelestarian budaya yang paling menonjol terlihat dalam pelaksanaan Baralek Gadang, yaitu pesta pernikahan adat Minangkabau yang sarat nilai budaya, sosial, dan seni. Di Malaysia, Baralek Gadang tidak hanya menjadi agenda keluarga, tetapi juga berkembang menjadi perhelatan budaya yang meriah, bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas, termasuk mereka yang bukan berasal dari keturunan Minangkabau.

Dalam beberapa tahun terakhir, elemen musik menjadi bagian paling mencolok dalam setiap penyelenggaraan Baralek Gadang. Lagu-lagu Minangkabau yang dahulu hanya dikenal secara terbatas, kini menjelma menjadi hiburan populer yang dinikmati lintas etnis di Malaysia. Fenomena ini menunjukkan terjadinya transformasi budaya, dari sekadar tradisi komunitas menjadi bagian dari industri hiburan yang lebih luas.

Jika menoleh ke belakang, sekitar setengah abad lalu, masyarakat Malaysia hanya mengenal beberapa lagu Minang klasik, salah satunya adalah Ayam Den Lapeh yang dipopulerkan oleh Elly Kasim. Selain itu, nama Tiar Ramon juga menjadi ikon yang memperkenalkan lagu-lagu Minang melalui siaran radio. Pada masa itu, akses terhadap musik Minang masih sangat terbatas, baik dari segi distribusi maupun interaksi langsung dengan para artis.

Namun kini, lanskap tersebut telah berubah drastis. Perkembangan teknologi, kemudahan mobilitas, serta kuatnya jaringan diaspora Minangkabau membuat musik Minang semakin mudah diakses dan dinikmati. Tidak hanya melalui media elektronik, tetapi juga melalui pertunjukan langsung dalam berbagai acara budaya.

Baralek Gadang di Malaysia kini kerap menghadirkan artis-artis asal Sumatera Barat untuk tampil secara live. Kehadiran mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antara perantau dengan kampung halaman. Lebih dari itu, penampilan tersebut justru berhasil menarik perhatian masyarakat non-Minangkabau yang mulai mengapresiasi irama khas, lirik, serta nuansa musik Minang.

Sejumlah nama artis yang kini populer dan sering tampil di Malaysia antara lain Rayu Kamek, Frengky Kheel, Roswita Kheel, Lepay, Bundo Raflesia, Upiak Isil, Faisal Ray, Jum Sikumbang, Susan Kim, hingga David Iztambul. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa musik Minang telah memasuki panggung internasional, setidaknya di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu artis yang cukup mencuri perhatian adalah Rayu Kamek. Ia telah dua kali diundang tampil di Malaysia, masing-masing di Selangor dan Johor. Penampilannya di Johor menjadi momen istimewa karena turut dihadiri oleh Mahyeldi Ansharullah serta tokoh senior Malaysia Rais Yatim yang juga menjadi penaung Pertubuhan Jaringan Masyarakat Minangkabau Malaysia. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya seperti Baralek Gadang tidak hanya bernilai hiburan, tetapi juga memiliki dimensi diplomasi budaya.

Melihat potensi besar ini, industri kreatif mulai mengambil peran strategis. Studio Mediamaju Malaysia, misalnya, berencana memproduksi empat lagu baru yang akan dibawakan oleh Rayu Kamek. Lagu-lagu tersebut berjudul Kito Samo Marindu, Cinto Ka Adiak Surang, Tingga Denai Surang, dan Saba Manunggu.

Produksi lagu-lagu baru ini diharapkan mampu memperkuat posisi musik Minang di pasar hiburan Malaysia, sekaligus memperluas jangkauan pendengarnya. Tidak hanya sebatas diputar di radio dan televisi Malaysia, tetapi juga berpotensi menembus pasar musik digital yang lebih luas di tingkat regional.

Fenomena ini menegaskan bahwa budaya Minangkabau, khususnya melalui musik, memiliki daya tarik universal yang mampu menembus batas geografis dan etnis. Lagu Minang kini tidak lagi sekadar menjadi identitas komunitas, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang diapresiasi secara global.

Dengan semakin kuatnya kolaborasi antara pelaku seni, diaspora, dan industri kreatif, masa depan musik Minangkabau di panggung internasional tampak semakin cerah. Baralek Gadang pun tidak lagi hanya menjadi tradisi adat, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan budaya, hiburan, dan identitas lintas bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....