Resesi Ekonomi Hindari Doom Spending dan Lakukan Frugal Living

  • 14 Mar 2026 19:59 WIB
  •  Bukittinggi

Prof. Dr. Hesi Eka Puteri., SE., M.Si

Dosen Pascasarjana UIN Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi- Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan adanya tekanan yang perlu dicermati. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada di kisaran 5,11 persen. Angka tersebut masih relatif stabil, namun sejumlah analis memperkirakan adanya potensi perlambatan pada Triwulan I tahun 2026 jika krisis global semakin memburuk, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia.

Tekanan inflasi juga mulai terlihat pada awal tahun ini. Data statistik menunjukkan inflasi bulanan pada Februari 2026 mencapai sekitar 0,68 persen dengan inflasi tahunan (year on year) sebesar 4,76 persen. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya harga pangan menjelang Hari Raya Idul Fitri, serta lonjakan harga komoditas global.

Selain itu, harga emas dunia juga mengalami peningkatan tajam sejak Januari 2026. Lonjakan ini dipicu oleh fenomena safe haven buying, yaitu kecenderungan investor memindahkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman saat kondisi global tidak stabil.

Tekanan ekonomi juga tercermin pada pasar keuangan domestik. Bursa saham Indonesia mengalami tren penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat menyentuh level sekitar 7.137 pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026, yang menjadi salah satu titik terendah dalam 7 hingga 8 bulan terakhir.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dan sempat berada di kisaran Rp17.019 per dolar AS pada awal Maret 2026. Pelemahan ini dipengaruhi oleh sentimen negatif global serta memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Meski demikian, pemerintah berupaya menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang relatif stabil. Siklus naik turun ekonomi merupakan fenomena yang wajar dalam sistem ekonomi global.

Hindari Kepanikan Ekonomi

Para pakar mengingatkan bahwa respon masyarakat terhadap kondisi ekonomi sering kali menentukan seberapa besar dampak krisis itu sendiri. Kepanikan yang berlebihan justru dapat memperburuk situasi, misalnya melalui perilaku konsumsi berlebihan yang dikenal sebagai doom spending.

Sebaliknya, pendekatan yang lebih bijak adalah mengedepankan pola hidup hemat atau frugal living. Masyarakat dianjurkan untuk mengelola pengeluaran secara lebih selektif, menghindari pembelian yang tidak mendesak, serta memperkuat cadangan keuangan.

Dalam konteks ini, pemikiran rasional dan perilaku ekonomis menjadi kunci utama ketahanan ekonomi rumah tangga. Keputusan konsumsi maupun investasi sebaiknya didasarkan pada analisis yang matang, data yang akurat, serta strategi jangka panjang.

Perspektif Nilai Islam: Moderasi dalam Konsumsi

Dalam perspektif ekonomi Islam, situasi ketidakpastian ekonomi juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai kesederhanaan dan moderasi dalam konsumsi. Islam mengajarkan umatnya untuk menghindari sikap berlebihan, baik dalam bentuk pemborosan maupun kekikiran.

Perilaku ekonomi yang dianjurkan adalah hidup sederhana namun tetap produktif. Pengeluaran diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar bermanfaat, termasuk untuk kegiatan investasi yang produktif, pendidikan, serta kegiatan sosial seperti sedekah.

Pendekatan ini diyakini dapat menciptakan keseimbangan antara kebutuhan duniawi dan tanggung jawab sosial, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat secara kolektif.

Stop Overreacting

Pada akhirnya, para ekonom mengingatkan masyarakat untuk tidak bereaksi secara berlebihan terhadap isu resesi yang berkembang. Krisis ekonomi memang merupakan kemungkinan yang harus diantisipasi, namun respon yang tepat adalah kewaspadaan yang rasional, bukan ketakutan.

Dengan menghindari perilaku konsumsi berlebihan, meningkatkan efisiensi pengeluaran, serta tetap berusaha produktif dan inovatif, masyarakat diharapkan dapat melewati periode ketidakpastian ekonomi ini dengan lebih tenang.

Ketahanan ekonomi umat pada dasarnya berawal dari pola pikir yang rasional dan perilaku ekonomi yang bijak. Krisis mungkin berada di depan mata, tetapi kepanikan bukanlah solusi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....