Gajah Zidan Dirantai, Ini Penjelasan Kadis Pariwisata Bukittinggi

  • 13 Sep 2026 21:18 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Pariwisata yang menangani Taman Marga Satwa Kinantan (TMSBK) menegaskan, telah mengoptimalkan perawatan bagi gajah jantan sumatera bernama Zidan.

Zidan telah menjadi bagian dari lembaga konservasi tersebut selama 25 tahun sejak masuk pada tahun 2001 dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga, Provinsi Riau, saat usianya sembilan tahun.

Selama sebagian besar masa perawatannya, Zidan dikenal berperilaku normal, dan ditangani dengan baik oleh pihak pengelola. Namun, dinamika perilaku satwa mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi, Rofie Hendria, menyebutkan, Gajah Zidan dilaporkan mulai agresif sejak tahun 2022 akibat periode musth atau masa kenaikan hormon yang tidak teratur, sehingga sulit dilatih dan berulang kali melukai para pawangnya, petugas lain, serta gajah betina koleksi lainnya bernama Lia.

Kondisi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak buruk bagi keselamatan Zidan sendiri maupun mengancam keamanan pengunjung.

" Eskalasi perilaku yang semakin tak terkendali ini membuat perawat gajah (mahout) berpengalaman yang mendampingi Zidan akhirnya memilih mengundurkan diri pada Juni 2024, karena merasa tidak sanggup lagi menanganinya," jelasnya.

Di tengah minimnya ketersediaan mahout berpengalaman di luar ulas Rofie Hendria, TMSBK menugaskan staf internal yang pernah merawat Zidan dan Lia.

Untuk meningkatkan kapasitasnya, perawat tersebut bahkan telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) mahout di PLG Padang Sugihan serta sosialisasi ke PLG Way Kambas.

" Selain masalah perilaku, Zidan juga pernah mengalami sejumlah masalah kesehatan, seperti luka abses pada pinggul kiri akibat kebiasaan tidur berbaring ke kiri," terangnya.

Rofie Hendria menyebutkan, penanganan intensif telah dilakukan TMSBK, termasuk tindakan medis pembiusan pada Maret 2023, April 2024, dan Mei 2024 bekerja sama dengan dokter hewan untuk pengobatan luka serta pengambilan sampel.

Penanganan medis lanjutan kembali dilakukan melalui pembiusan pada 21 Januari 2025 untuk mengobati luka kaki depan, mengganti rantai, serta memindahkan ikatan rantai dari kaki kanan ke kaki kiri dengan bantuan tiga mahout dari Taman Satwa Kandi Sawahlunto.

Mengingat kondisi agresivitas yang semakin membahayakan, TMSBK bersama BKSDA dan tim dokter hewan berkoordinasi untuk mengambil langkah pengamanan darurat.

"Saat ini, Gajah Zidan terpaksa ditempatkan di kandang tidur dengan rantai pada kaki kiri depan dan belakang demi keselamatan staf, memudahkan pembersihan kandang, serta kelancaran pemberian pakan harian yang dilengkapi multivitamin rutin," terangnya.

Menyadari keterbatasan fasilitas penanganan satwa dengan kondisi khusus tersebut, Pemkot Bukittinggi telah mengambil langkah strategis dengan menyurati Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumatera Barat agar segera dilakukan evakuasi terhadap Zidan ke lembaga konservasi lain yang memiliki sarana dan prasarana lebih lengkap.

"Laporan serupa juga disampaikan kepada tim ahli yang melaksanakan sertifikasi TMSBK. Bahkan, saat kunjungan Menteri Kehutanan ke TMSBK pada tahun 2025, persoalan ini telah disampaikan secara langsung yang kemudian secara lisan telah menginstruksikan jajarannya untuk segera menyikapi," ungkapnya.

Rofie Hendria menegaskan, poin paling penting dari seluruh langkah pengamanan dan pembatasan ruang gerak ini semata-mata didasarkan pada pertimbangan keselamatan kerja dan mitigasi risiko.

"Kami selalu berupaya mencurahkan perhatian maksimal, perawatan terbaik, serta pemenuhan pakan dan kesehatan yang layak bagi Gajah Zidan di tengah situasi yang ada," tukasnya. (YPA/AGZ)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....