Camat MKS Kejar Bus Haji, Cinta Anak Tak Pernah Usai
- 03 Mei 2026 06:26 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Pagi itu Kamis, 30 April 2026 di sudut-sudut kota, seakan enggan beranjak dari suasana haru yang perlahan menyelimuti tampak ditengah kesibukan pelepasan jamaah haji, satu momen tak terduga justru mencuri perhatian bukan karena protokol resmi, bukan pula karena seremonial yang megah, tetapi karena cinta yang begitu tulus dari seorang anak kepada ayah dan ibunya.
Dialah Fachrul Razi,S.E.,M.M.Kp Datuak Parpatiah, Camat Mandiangin Koto Selayan (MKS) Kota Bukittinggi.
Sosok yang selama ini dikenal tegas dalam tugas, hari itu tampak berbeda. Di balik wibawanya sebagai seorang pemimpin, ia hanyalah seorang anak—yang tak ingin jauh dari doa ibunya.
Ketika rombongan jamaah haji mulai diberangkatkan, langkah kaki Fachrul Razi terlihat tergesa. Matanya menyapu barisan bus yang perlahan bergerak meninggalkan lokasi. Di dalam salah satu bus itu, sang ibu duduk, bersiap menunaikan panggilan suci ke Tanah Haram.
Namun bagi Fachrul, ada satu hal yang belum selesai.
Dengan napas yang mulai tersengal, ia berlari. Mengejar bus yang membawa ibunya.
Bukan untuk menahan kepergian itu karena ia tahu ini adalah perjalanan ibadah yang mulia selama 40 hari ke Tanah Suci Baitullah Makkah Al Mukkaramah melainkan untuk memastikan satu hal: ia ingin melihat ibunya sekali lagi, lebih dekat, lebih lama, sebelum jarak dan waktu memisahkan mereka.
Orang-orang di sekitar terdiam. Beberapa terharu. Tak sedikit yang menitikkan air mata.
Di tengah deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk pelepasan, momen itu menjadi sunyi—sunyi yang penuh makna.
Saat akhirnya ia berhasil mendekat, Fachrul Razi mengangkat tangannya. Dari balik jendela, sang ibu membalas dengan senyum dan doa yang tak terucap, namun terasa begitu kuat.
Tidak ada kata-kata panjang. Tidak ada pidato. Hanya tatapan—yang menyimpan ribuan makna tentang kasih sayang, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus.
“Doakan saya, Bu…” mungkin itu yang ingin ia sampaikan. Atau mungkin, ia hanya ingin memastikan bahwa doa ibunya akan selalu menyertainya, ke mana pun langkahnya pergi.
Karena bagi seorang anak, restu ibu bukan sekadar harapan—melainkan kekuatan.
Peristiwa itu bukan sekadar adegan emosional biasa. Ia adalah cerminan dari nilai yang sering kali terlupakan di tengah kesibukan dunia: bahwa orang tua adalah segalanya. Mereka adalah awal dari setiap langkah kita, dan doa merekalah yang sering kali menjadi alasan kita tetap kuat, bahkan ketika dunia terasa berat.
Fachrul Razi mungkin seorang camat. Ia memiliki jabatan, tanggung jawab, dan kewibawaan.
Namun di hadapan ibunya, semua itu luruh. Ia kembali menjadi anak kecil yang ingin dekat, yang ingin memastikan bahwa cinta itu tetap utuh, bahwa hubungan itu tidak pernah selesai.
Dan memang, cinta kepada orang tua tidak pernah memiliki titik akhir.
Ia terus hidup dalam doa, dalam rindu, dalam setiap langkah yang kita ambil.
Kejaran singkat menuju bus haji itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun maknanya akan dikenang jauh lebih lama—sebagai bukti bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada ruang bagi cinta yang paling murni.
Cinta seorang anak kepada ibunya.
Cinta yang tidak pernah selesai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....