Air Mata Haru Petugas Kloter 7 Padang, Ibadah Jemaah Jadi Prioritas
- 02 Mei 2026 10:58 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Madinah — Di tengah suasana khidmat Kota Suci, lantai 1 Hotel Front Thaiba Madinah menjadi saksi pertemuan penuh makna.
Para petugas haji yang tergabung dalam Kloter 7 Embarkasi Padang duduk bersama, bukan sekadar untuk rapat koordinasi, tetapi untuk menyatukan tekad memastikan setiap jemaah menjalankan ibadah dengan selamat, nyaman, dan sempurna.
Rapat koordinasi yang mengusung agenda evaluasi dan pemantapan program ibadah musim haji 1447 Hijriah / 2026 Masehi ini diikuti oleh seluruh unsur penting dalam kloter. Mulai dari petugas inti hingga Ketua Regu (Karu) dan Ketua Rombongan (Karom), semua hadir dengan satu tujuan menguatkan pelayanan bagi para tamu Allah.

Di barisan depan, Ketua Kloter, Hj. Misra Elfi.,S.Ag.M.M. memimpin jalannya diskusi dengan penuh ketegasan sekaligus kehangatan.
Ia didampingi Pembimbing Ibadah Kloter, Ustadz Irfan Junaidi, yang terus mengingatkan pentingnya menjaga kekhusyukan dan ketepatan pelaksanaan setiap rangkaian ibadah.
Dari sisi kesehatan, dr. Yelvi Novita bersama perawat Ns. Deni Jusman dan PHD Kesehatan Ns. Yessi Agustin tak henti menekankan bahwa kondisi fisik jemaah adalah kunci utama keberhasilan ibadah.
Di tengah cuaca yang tidak bersahabat dan aktivitas ibadah yang padat, kewaspadaan menjadi harga mati.
Sementara itu, dukungan teknis dan pelayanan umum diperkuat oleh Dirmayanto selaku PHD Bidang Umum, serta bimbingan keagamaan tambahan dari Ustadz Ahmad Budiman, Lc..MA sebagai Pembimbing Ibadah KBIHU.
Namun, lebih dari sekadar penyampaian tugas dan fungsi, pertemuan ini terasa berbeda.
Ada nuansa emosional yang mengalir di setiap pembahasan.
Para petugas menyadari bahwa mereka tidak hanya menjalankan amanah administratif, tetapi juga memikul tanggung jawab spiritual yang besar.
Setiap jemaah yang mereka dampingi bukan sekadar angka dalam daftar, melainkan individu dengan harapan, doa, dan perjalanan hidup panjang yang bermuara di Tanah Suci.
Banyak di antara mereka yang menabung bertahun-tahun, bahkan seumur hidup, demi bisa menginjakkan kaki di Madinah dan Makkah.
“Keselamatan dan kesempurnaan ibadah jemaah adalah prioritas utama,” menjadi kalimat yang berulang kali ditekankan dalam forum tersebut.
Kalimat sederhana, namun sarat makna dan tanggung jawab.
Diskusi berjalan dinamis. Berbagai evaluasi disampaikan secara terbuka mulai dari pengaturan jadwal ibadah, pengawasan kesehatan jemaah lansia, hingga koordinasi komunikasi antar petugas dan jemaah.
Semua dibahas dengan satu semangat: memperbaiki yang kurang, memperkuat yang sudah baik.
Di sela-sela pertemuan, tak sedikit yang terdiam sejenak, seolah menyadari betapa besar amanah yang mereka emban.
Di Tanah Suci ini, setiap langkah dan keputusan bukan hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga pada sah atau tidaknya ibadah seseorang.
Rakor ini pun menjadi ruang refleksi. Bahwa melayani jemaah haji bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian yang menyentuh dimensi kemanusiaan dan keimanan sekaligus.
Dengan berakhirnya pertemuan tersebut, satu hal menjadi semakin jelas: di balik lancarnya pelaksanaan ibadah haji, ada kerja senyap para petugas yang penuh dedikasi.
Mereka hadir bukan untuk terlihat, tetapi untuk memastikan setiap jemaah dapat pulang dengan satu harapan yang sama—menjadi haji yang mabrur.
Dan di Madinah, komitmen itu kembali diteguhkan. Bukan hanya dalam kata, tetapi dalam niat dan tindakan nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....