Skin Cycling Masih Worth It?, "Memahami Tren Skincare yang Sempat Viral"
- 27 Agt 2026 07:46 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Skin cycling sempat menjadi salah satu tren skincare yang ramai dibicarakan karena menawarkan cara merawat kulit dengan rutinitas yang lebih teratur. Konsepnya sederhana, yaitu menggunakan bahan aktif pada malam tertentu lalu memberikan waktu bagi kulit untuk beristirahat dan memulihkan diri.
Rutinitas ini biasanya membagi beberapa malam ke dalam tahapan berbeda, seperti eksfoliasi, penggunaan retinoid, kemudian malam pemulihan dengan fokus pada hidrasi. Pola tersebut membuat penggunaan bahan aktif terasa lebih terjadwal dan tidak asal ditumpuk dalam satu rutinitas.
Popularitas skin cycling juga tidak lepas dari media sosial yang membuat konsep skincare menjadi lebih mudah dipahami dan diikuti. Banyak orang tertarik karena metode ini terasa lebih sederhana dibandingkan mencoba berbagai bahan aktif setiap malam tanpa aturan yang jelas.
Salah satu alasan skin cycling masih relevan adalah karena tidak semua kulit cocok dengan penggunaan bahan aktif secara berturut-turut. Memberikan jeda dapat membantu mengurangi risiko iritasi, terutama bagi orang yang baru mulai mengenal eksfoliasi atau retinoid.
Namun, skin cycling bukan berarti sebuah aturan wajib yang harus diikuti semua orang. Kondisi kulit setiap orang berbeda, sehingga frekuensi penggunaan bahan aktif sebaiknya tetap disesuaikan dengan toleransi dan kebutuhan masing-masing.
Bagi sebagian orang, rutinitas skin cycling mungkin terasa membantu karena memberikan struktur yang jelas. Sementara bagi orang lain, rutinitas dasar seperti cleanser, moisturizer, dan sunscreen sudah cukup tanpa harus mengikuti siklus tertentu. (DEP/YPA)
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai istilah “skin cycling” membuat kita merasa harus memiliki banyak produk. Mengikuti tren skincare seharusnya bukan alasan untuk membeli berbagai bahan aktif sekaligus, apalagi jika kulit sebenarnya tidak membutuhkannya.
Skin cycling juga tidak akan memberikan hasil instan hanya dalam beberapa hari. Seperti rutinitas skincare lainnya, konsistensi dan pemilihan produk yang sesuai biasanya jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti metode yang sedang populer.
Jadi, apakah skin cycling hanya hype? Jawabannya bisa berbeda untuk setiap orang, tetapi konsep memberikan jeda pada penggunaan bahan aktif dan memprioritaskan pemulihan kulit tetap masuk akal jika diterapkan dengan tepat.
Pada akhirnya, skin cycling sebaiknya dianggap sebagai salah satu pilihan, bukan standar baru dalam merawat kulit. Jika metode ini membuat rutinitas lebih teratur dan kulit tetap nyaman, silakan diterapkan, tetapi jika rutinitas sederhana sudah bekerja dengan baik, tidak ada alasan untuk mengubahnya hanya karena sebuah tren sedang viral. (DEP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....