FOMO atau JOMO? Mana yang Lebih Sehat untuk Anak Muda?

  • 14 Sep 2026 09:40 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pernah merasa harus ikut tren karena takut ketinggalan dari teman-teman? Perasaan inilah yang sering disebut FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa cemas ketika merasa melewatkan sesuatu yang sedang ramai.

FOMO membuat seseorang terus memantau media sosial, mengikuti berbagai kegiatan, atau membeli sesuatu hanya karena orang lain melakukannya. Kalau tidak dikendalikan, kebiasaan ini bisa membuat kita sulit menikmati hidup tanpa membandingkan diri dengan orang lain.

Di sisi lain, ada istilah JOMO atau Joy of Missing Out, yaitu kemampuan menikmati pilihan untuk tidak ikut dalam semua hal. JOMO bukan berarti menjauh dari pergaulan, tetapi menyadari bahwa kita tidak harus hadir di setiap acara atau mengikuti setiap tren.

Bagi anak muda, JOMO bisa menjadi cara untuk menciptakan kehidupan yang lebih tenang dan sesuai dengan prioritas. Kita bisa memilih menggunakan waktu untuk beristirahat, belajar, berkarya, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar menikmati waktu sendiri.

Namun, FOMO tidak selalu buruk karena terkadang rasa ingin tahu justru mendorong seseorang mencoba pengalaman baru. Yang perlu dihindari adalah ketika keputusan kita selalu didasarkan pada rasa takut tertinggal, bukan karena benar-benar menginginkannya.

Kuncinya bukan memilih menjadi FOMO atau JOMO sepenuhnya, tetapi belajar mengenali kebutuhan dan batas diri. Ikut tren boleh, bersosialisasi tentu penting, tetapi mengatakan “tidak” ketika memang tidak ingin ikut juga bukan sesuatu yang salah.

Hidup bukan perlombaan untuk mengetahui atau mengikuti semuanya. Anak muda yang sehat secara mental bukan yang selalu hadir di setiap momen, melainkan yang mampu menentukan mana yang penting dan menikmati hidup tanpa terus mengejar validasi. (SG)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....