Manyarah Untuak Cinto, Kisah Rela Melepas

  • 30 Agt 2026 17:07 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi - Lagu Minang Manyarah Untuak Cinto yang dinyanyikan Nabilla Yuza menghadirkan kisah cinta tentang seseorang yang memilih mengalah dan melepaskan hubungan demi menghindari luka yang lebih dalam. Lagu tersebut merupakan karya Harry Parintang dan dirilis melalui Nada Musik Record pada 8 Desember 2024.

Kisah yang dibawakan dalam lagu ini menggambarkan perjalanan hati seseorang yang sebelumnya menyimpan harapan besar terhadap cinta. Namun, ketika hubungan tidak lagi memberikan kebahagiaan, keputusan untuk menyerah akhirnya menjadi pilihan yang harus diterima.

Lewat karakter vokalnya, Nabilla Yuza membawakan lagu tersebut dengan nuansa emosional yang kuat. Perasaan kecewa, sedih, sekaligus berusaha ikhlas menjadi warna utama yang membuat cerita dalam lagu terasa dekat dengan pengalaman pendengarnya.

Manyarah Untuak Cinto secara sederhana dapat dimaknai sebagai keputusan untuk menyerah demi kebaikan hati. Pesan tersebut tergambar dari cerita tentang cinta yang tidak mungkin dipersatukan sehingga lebih baik dilepaskan daripada terus menimbulkan luka.

Menariknya, kisah dalam lagu tidak hanya berbicara tentang kehilangan, tetapi juga tentang keberanian menerima kenyataan. Tokoh dalam cerita memilih menahan rasa sakit dan merelakan orang yang dicintai daripada mempertahankan hubungan yang justru membuat dirinya semakin terluka.

Lagu ini kemudian mendapatkan ruang di tengah pendengar musik Minang dan turut hadir dalam berbagai unggahan serta video yang membahas lagu tersebut. Rekaman video musik resminya di kanal Nada Musik Record juga telah ditonton lebih dari dua juta kali berdasarkan data yang terlihat pada halaman YouTube.

Kekuatan cerita menjadi salah satu daya tarik lagu Minang karena persoalan cinta disampaikan melalui bahasa dan ungkapan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Manyarah Untuak Cinto menawarkan kisah yang sederhana, tetapi memiliki emosi yang kuat mengenai harapan, perpisahan, dan keikhlasan.

Selain Nabilla Yuza sebagai penyanyi, produksi lagu ini juga melibatkan sejumlah pihak, termasuk Harry Parintang sebagai pencipta lagu serta tim Nada Musik Record dalam proses produksi dan perilisan. Video musiknya turut menampilkan Ryan sebagai pemeran sehingga cerita cinta yang dibawakan lagu dapat divisualisasikan kepada penonton.

Kehadiran lagu tersebut menunjukkan bahwa musik Minang tidak hanya mempertahankan kekuatan bahasa daerah, tetapi juga mampu mengangkat tema universal yang mudah dipahami pendengar. Kisah tentang cinta yang kandas dan pilihan untuk merelakan menjadi tema yang dapat dirasakan oleh siapa saja.

Pada akhirnya, Manyarah Untuak Cinto bukan sekadar lagu tentang patah hati, melainkan cerita mengenai proses menerima bahwa tidak semua cinta harus dipertahankan. Melalui suara Nabilla Yuza, kisah tersebut hadir sebagai pengingat bahwa terkadang melepaskan menjadi bentuk terakhir dari ketulusan dalam mencintai. (SVD)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....