Seanna Gyove Inara, Hidupkan Dongeng Asal-usul Ngarai Sianok

  • 07 Jul 2026 09:16 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Suasana studio Radio Pro 2 RRI Bukittinggi mendadak hening dan magis. Suara riuh rendah obrolan talkshow seketika berganti dengan gemuruh emosi yang mengalir dari pita suara seorang gadis kecil multitalenta, Seanna Gyove Inara.

Sore itu, siswi kelas 5 SD yang akrab disapa Sean ini mendemonstrasikan keahlian bertuturnya dengan membawakan cerita fiksi berjudul Asal-usul Ngarai Sianok. Dongeng tersebut merupakan karya Ivan Sibro yang sengaja digubah berbeda dari mitos naga populer demi memantik kesegaran literasi lokal.

Dengan permainan intonasi yang matang, mimik muka ekspresif, serta penghayatan karakter yang mendalam, Sean berhasil membawa pendengar masuk ke mesin waktu masa lalu. Ia mengisahkan sepasang saudara kandung, Mualim si Sulung dan Cahayo si Bungsu, yang bertengkar hebat memperebutkan uang hasil panen hingga beradu kesaktian.

“Orang tua mereka yang dirundung kesedihan mendalam akhirnya mengangkat tangan ke langit, berdoa memohon agar Sang Pencipta memisahkan anak-anak mereka agar tidak lagi saling menyakiti,” tutur Sean dengan suara bergetar penuh drama.

Klimaks cerita dibawakan Sean dengan begitu apik hingga menggambarkan bumi Bukittinggi yang berguncang hebat menjelang subuh. Tanah bergeser membentuk jurang dalam yang kini dikenal sebagai pemandangan indah Ngarai Sianok, di mana rumah kedua orang tua mereka runtuh ke dasar jurang demi menjadi pembatas fisik agar anak-anak mereka berhenti bertikai.

Talkshow Pro 2. Mencetak Generasi Kreatif Lewat Sentuhan Seni.

Profil Generasi Kreatif Masa Kini

Penampilan memukau tersebut bukan hal instan. Di bawah binaan Sanggar Seni Sibro, bakat Sean melesat tajam. Tidak hanya jago bertutur, Sean merupakan peraih Juara 1 Lomba Mendongeng Kisah Nabi tingkat regional Sumatra saat kelas 1 SD, Ikon Buyung Upia Kota Bukittinggi 2025, pemeran Rohana Kudus kecil produksi TVRI 2023, Juara 1 Lomba Bertutur 100 Tahun Jam Gadang, sekaligus atlet renang nomor 100 meter.

Apa yang dilakukan oleh Sean dan Sanggar Seni Sibro menjadi pembuktian penting di era digital. Di tengah gempuran gadget dan konten instan media sosial, dongeng lisan terbukti masih menjadi senjata paling ampuh untuk merawat ingatan, melestarikan kebudayaan, sekaligus menanamkan moralitas pada generasi muda Minangkabau. (AFN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....