Fenomena Burnout di Usia Muda yang Jarang Dibahas

  • 27 Mar 2026 15:48 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Burnout sering diasosiasikan dengan pekerja berusia matang yang menghadapi tekanan karier bertahun-tahun. Padahal, fenomena ini juga banyak dialami anak muda yang masih berada di fase awal kuliah atau dunia kerja. Tuntutan untuk cepat sukses, produktif, dan terus berkembang membuat tekanan terasa datang lebih awal.

Di usia muda, fase pencarian jati diri sering berjalan bersamaan dengan tuntutan performa. Target akademik, ekspektasi keluarga, hingga perbandingan sosial di media digital menciptakan beban mental yang tidak ringan. Menurut berbagai pembahasan dalam Harvard Business Review dan Psychology Today, tekanan kronis tanpa jeda pemulihan dapat memicu kelelahan emosional yang menjadi ciri utama burnout.

Burnout tidak selalu terlihat dramatis seperti kelelahan fisik ekstrem. Gejalanya bisa berupa kehilangan motivasi, merasa hampa, mudah tersinggung, atau merasa usaha yang dilakukan tidak berarti. Kondisi ini sering disalahartikan sebagai malas atau kurang disiplin, padahal sebenarnya tubuh dan pikiran sedang kelelahan.

Budaya hustle dan glorifikasi sibuk juga memperparah situasi. Banyak anak muda merasa harus selalu aktif, belajar hal baru, membangun personal branding, dan mengejar peluang tanpa henti. Tanpa disadari, ritme ini membuat istirahat dianggap sebagai kemunduran, bukan kebutuhan.

Menyadari burnout sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah dampak jangka panjang. Mengatur ulang prioritas, memberi ruang istirahat, dan menetapkan batasan yang sehat dapat membantu memulihkan energi. Produktif di usia muda memang baik, tetapi menjaga kesehatan mental jauh lebih berharga untuk perjalanan yang panjang. (STP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....