Hedonic Treadmill: Kenapa Kita Cepat “Biasa Saja” Lagi?

  • 18 Feb 2026 10:16 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pernah merasa sangat bahagia saat akhirnya membeli barang impian, naik jabatan, atau mencapai target besar? Rasanya seperti hidup sedang berada di puncak. Tapi anehnya, beberapa minggu atau bulan kemudian… semuanya terasa biasa saja.

Kalau kamu pernah mengalami itu, kamu tidak sendirian. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai hedonic treadmill istilah yang diperkenalkan oleh Philip Brickman dan Donald T. Campbell.

Sederhananya, hedonic treadmill menjelaskan bahwa manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan awalnya, meskipun baru saja mengalami hal yang sangat menyenangkan (atau bahkan menyedihkan). Kita seperti berlari di atas treadmill: capek, berkeringat, merasa bergerak jauh padahal sebenarnya tetap di tempat yang sama. Kenapa Kebahagiaan Tidak Bertahan Lama?

Manusia punya kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Awalnya, gaji baru terasa luar biasa. Rumah baru terasa seperti mimpi. Pujian terasa membahagiakan.

Tapi lama-lama, semua itu jadi normal.

Yang dulu membuat kita berbunga-bunga, kini terasa standar. Dan tanpa sadar, kita mulai mencari target berikutnya.

Lebih banyak uang.

Lebih tinggi jabatan.

Lebih besar pencapaian.

Bukan karena kita serakah, tapi karena otak kita memang terbiasa menyesuaikan diri.

Siklus yang Melelahkan

Masalahnya, siklus ini bisa terasa melelahkan:

  1. Kita mengejar sesuatu.
  2. Kita mendapatkannya.
  3. Kita bahagia sebentar.
  4. Kita terbiasa.
  5. Kita merasa kurang lagi.

Lalu ulang dari awal.

Ketika ini terjadi terus-menerus, muncul perasaan aneh: “Kok rasanya tetap kosong ya?” Padahal secara objektif, hidup kita mungkin terus meningkat.

Inilah jebakan treadmill — terus berlari, tapi tidak pernah merasa benar-benar sampai. (DEP)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....