Mengapa Biasa-Biasa Saja Itu Tidak Salah

  • 03 Feb 2026 15:33 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.Id, Bukittinggi - Di tengah budaya yang memuja pencapaian besar, anak muda sering merasa harus terlihat luar biasa. Padahal, hidup tidak selalu tentang menjadi yang paling menonjol. Filsuf Alain de Botton pernah menyinggung bahwa obsesi pada kesuksesan justru sering membuat manusia sulit merasa cukup.

Media sosial memperkuat ilusi bahwa hidup ideal harus penuh prestasi dan sorotan. Psikolog sosial menjelaskan bahwa perbandingan terus-menerus dapat memicu rasa tidak puas dan kelelahan mental. Menjadi “biasa” sering kali bukan kegagalan, tapi bentuk keseimbangan.

Dalam buku The Art of Happiness, Dalai Lama menekankan bahwa ketenangan batin tidak datang dari status atau pengakuan, melainkan dari penerimaan diri. Hidup yang stabil, sehat, dan bermakna sering kali dibangun dari hal-hal sederhana yang konsisten.

Banyak orang yang hidup tenang justru jarang disorot. Mereka bekerja dengan cukup, menikmati waktu dengan orang terdekat, dan menjalani hari tanpa tekanan berlebihan. Penelitian tentang well-being menunjukkan bahwa kepuasan hidup lebih erat kaitannya dengan hubungan dan makna, bukan pencapaian ekstrem.

Bagi anak muda, menyadari bahwa biasa-biasa saja itu tidaklah salah tetapi bisa menjadi kelegaan. Hidup bukan kompetisi untuk selalu unggul, tapi perjalanan memahami diri sendiri. Kadang, hidup yang “cukup” adalah bentuk keberhasilan yang paling jujur. (STP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....