Mengapa Masih Banyak Masyarakat Percaya Dukun?

  • 07 Jul 2025 07:52 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi: Meski zaman telah berubah, teknologi berkembang pesat, dan ilmu pengetahuan semakin maju, nyatanya masih banyak masyarakat Indonesia yang percaya pada dukun.

Dukun adalah seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan supranatural atau kekuatan spiritual untuk membantu menyelesaikan berbagai masalah hidup, baik yang berkaitan dengan kesehatan, rezeki, jodoh, keselamatan, maupun hal-hal gaib lainnya.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, sosok dukun sering kali menempati tempat yang unik—dianggap sakti, ditakuti, namun juga dicari. Tapi apa sebenarnya yang menjadi ciri khas seorang dukun?

Pertama, dukun dikenal karena mengandalkan kekuatan di luar nalar. Mereka tidak menggunakan logika ilmiah, melainkan mantra, jampi-jampi, doa-doa tertentu, atau ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam praktiknya, mereka sering kali menggunakan benda-benda seperti kemenyan, dupa, boneka, air khusus, atau ramuan dari akar dan tumbuhan.

Ciri khas lainnya adalah aura misterius. Dukun biasanya menjaga jarak dari kehidupan sehari-hari, bahkan sengaja membangun citra sebagai orang yang tidak sembarangan bisa ditemui. Seringkali, mereka dianggap memiliki "kelebihan" seperti bisa berkomunikasi dengan makhluk halus, meramal masa depan, atau mengetahui apa yang tersembunyi dari orang biasa.

Selain itu, peran dukun bisa sangat beragam. Ada yang dikenal sebagai penyembuh tradisional, dukun pijat, dukun bayi, atau yang lebih kontroversial — dukun santet dan dukun pelet, yang dipercaya bisa mencelakai atau memikat seseorang dengan kekuatan gaib.

Yang membuat dukun berbeda dari tenaga medis atau tokoh agama adalah pendekatannya. Mereka tak berbasis pendidikan formal atau kitab suci, melainkan pada kepercayaan, intuisi, dan warisan budaya.

Namun, penting untuk dicatat: tidak semua yang mengaku dukun benar-benar punya kemampuan. Ada yang sekadar memainkan psikologis orang lain demi keuntungan pribadi. Maka dari itu, bijaklah dalam menyikapi keberadaan mereka — antara rasa hormat terhadap tradisi dan kesadaran akan batas logika.

Di tengah maraknya klinik kesehatan, konsultan profesional, dan bantuan psikologis, dukun masih jadi tempat berkeluh kesah — bahkan untuk hal-hal yang sulit dijelaskan secara logis.

Salah satu alasannya adalah tradisi. Dalam banyak budaya lokal di Indonesia, dukun bukan sekadar penyembuh, tapi juga tokoh spiritual, penasihat, dan penjaga adat. Mereka dihormati karena dianggap memiliki kemampuan "lebih", yang dipercaya bisa membuka pintu keberuntungan atau menutup jalan musuh.

Alasan lain adalah rasa putus asa. Ketika logika dan usaha tak lagi memberi hasil, orang cenderung mencari jalan pintas. Dukun pun hadir sebagai "solusi terakhir", menawarkan kesembuhan, jodoh, rezeki, bahkan jalan balas dendam — semua dalam balutan ritual mistis.

Sayangnya, tak sedikit pula yang datang ke dukun untuk tujuan yang keliru: menyakiti orang lain, mendapatkan kekuasaan instan, atau menghindari tanggung jawab. Di sinilah kepercayaan buta menjadi berbahaya.

Percaya atau tidak percaya, fenomena ini menunjukkan bahwa rasa takut, harapan, dan keinginan manusia sering kali lebih kuat daripada logika. Dan selama ada celah dalam pendidikan, pemahaman agama, atau akses terhadap bantuan yang tepat, kepercayaan terhadap dukun akan terus hidup — meskipun dunia sudah berubah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....