Berapa Harga Saluang dan Bansi di Jalan Minangkabau, Bukittinggi?
- 16 Sep 2024 07:07 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Hendri Jornalis (54), salah seorang warga Kelurahan Campago Ipuah Kota Bukittinggi tetap bertahan untuk tetap melestarikan kesenian Minangkabau terhadap keberadaan alat music tiup, “Saluang dan Bansi”.
Dirinya mewarisi profesi yang ditekuni orang tuanya dalam memproduksi “Saluang dan Bansi”, sehingga ketika Hendri Jornalis “Bujang” alat music tiup tersebut menjadi bagian dari kesehariannya.
“ini usaha dari warisan keluarga, saya generasi kedua yang meneruskan jejak Ayah, dikarenakan Ayah sudah meninggal dunia maka pengrajin “Saluang dan Bansi” sudah tekuni sejak “bujang” hingga sekarang,” sebutnya
Ia akui di lapangan, tidak semua orang mampu mendalami 3 hal sekaligus ketika dihadapkan dengan “Saluang dan Bansi” yakni memproduksi, memperjualbelikan dan memainkan. Namun, dirinya mengaku keseluruhan hal itu dimilikinya.
“jadi, tidak harus semua orang bisa ketiganya, ada orang yang bisa membuat tapi tidak bisa memperdagangkannya, atau memainkannya, ada orang yang bisa menjualnya tapi tidak bisa membuat dan memainkannya, ada orang bisa memainkannya tapi tidak menjual dan memproduksinya, tapi alhamdulillah kami mempunyai kesemuanya, bisa membuat, menjual dan memainkannya,” terangnya
Dirinya juga mengaku seiring zaman terjadi perubahan terhadap alat music tiup “ Saluang dan Bansi”, jika dibandingkan dengan masa lampau disaat dirinya masih kecil, alat music yang diproduksi orang tuanya telah mengeluarkan bunyi atau suara maka “Saluang dan Bansi” sudah dikatakan jadi alat music. Akan tetapi, sekarang peserta didik yang mempelajari dan menggunakan alat music itu dihadapkan dengan nada yang dipatok terhadap “Saluang dan Bansi”, sehingga dirinya sebagai pengrajin dan pedagang harus menyesuaikan situasi tersebut.
“kesulitan dalam membuat “Saluang dan Bansi” sebenarnya tidak ada, namun sekarang anak sekolah sudah mengenal nada terhadap alat music itu, saya tentu mempelajari tangga nada itu, mulai dari nada rendah hingga tinggi, kalau dulu tidak ada seperti itu, asal saluang dan bansi dibuat hingga menghasilkan suara maka alat music itu telah jadi,” ujarnya
Diterangkan, tangga nada yang membedakan antara saluang dan bansi itu baru muncul sekitar 4 tahun belakangan ini.
“sebelumnya tidak ada, ini masih baru, sekitar empat tahun belakangan hingga sekarang,” ucapnya
Hendri Jornalis menyebutkan alat music Saluang dan Bansi diproduksi dari pengolahan tanaman sejenis bambu yang familiar disebut masyarakat minang dengan “Talang”. Talang ini awamnya juga dipergunakan oleh warga untuk memasak salah satu kuliner khas yakni Lamang.
“Lamang”, perpaduan beras ketan “Sipuluik” dengan santan kelapa dicampur dengan resep lainnya, selanjutnya dimasukan ke dalam “Talang” yang telah dialasi daun pisang.
Sekarang, “Talang” sulit ditemukan kehadirannya tumbuh merata di wilayah Sumatera Barat, hanya bertahan di beberapa wilayah saja serupa di Padang Pariaman/Pariaman dan Pasaman, tanaman itu masih banyak ditemukan, dikarenakan kebiasaan/tradisi/adat masyarakat yang membuat keberadaan “Talang” eksis dan dirawat serta dijaga.
“ kalau sekarang, susah mencari talang itu, tidak di semua wilayah ada, kalau di Bukittinggi tidak mudah mendapatkan tanaman talang yang tumbuh di sekitar pemukiman masyarakat. Tapi, di Padang Pariaman/Pariaman, Pasaman, kita masih mudah menemukannya, karena di sana Talang memang dijaga, ditanam dan dirawat. Masyarakat di sana memang rutin menggunakan talang dalam keseharian, membuat lamang di acara penting,” jelasnya
Dikatakan, dirinya hanya menghubungi di penjual talang yang dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan saluang dan bansi.
Kebijakan pemerintah daerah terhadap pemberlakuan pembelajaran Budaya Alam Minangkabau memberikan dampak positif bagi keberlangsungan alat music tradisional dan produk yang dirinya hasilkan serta perdagangkan itu sehingga sekarang memang peserta didik meliriknya. Disebutkan, berbeda dengan kondisi masa lalu, saluang dan bansi hanya diminati pengunjung dan wisatawan yang datang ke Bukittinggi untuk menjadikan saluang dan bansi sebagai cendera mata.
“ berbeda dengan masa lalu, dulu memang wisatawan yang membeli saluang dan bansi, sekarang anak sekolah, sejak mereka mempelajari kembali BAM, alhamdulillah saya sebagai pengrajin dan pedagang merasakan dampaknya,” katanya
Biasanya, dirinya menjual saluang dan bansi mencapai nominal Rp 200.000 hingga Rp 250.000 per unit yang dibedakan dari ukuran dan jenis kesulitan ukirannya. Namun, sekarang alat music itu dihargai mulai Rp 50.000 per unitnya, dikarenakan terjadi siklus jual beli yang lebih laris manis jika dibandingkan 4 tahun belakangan ini.
“anak SD hingga mahasiswa pun sudah mencari saluang dan bansi, jadi saya bersemangat memproduksi dan menjualnya, kalau dulu memang susah jual belinya sehingga mempengaruhi harga jual, terkesan mahal, orang jarang beli,” ungkapnya
Menurutnya, pewarisan nilai budaya dan adat istiadat tidak dapat dipisahkan antar individu dan kelompok, sehingga terjalin hubungan yang kuat untuk saling menguatkan, peserta didik mengetahui dan mendalami kebudayaannya dipengaruhi oleh sejauh mana orang tua dan keluarga si anak memandang kebudayaan tersebut harus dijaga dan dilestarikan, begitu juga pemerintah memberlakukan kebijakan serta program untuk pewarisan kebudayaan bersangkutan.
“itu memang saling berkaitan, kalau anak sekolah, mereka patuh, ada kebijakan pemerintah yang mengharuskan anak mempelajari kebudayaan, maka orang tua memandang itu harus didukung maka orang tua tidak pikir Panjang, orang tua pasti penuhi kebutuhan anak, seperti membelikan saluang dan bansi untuk anak mereka pelajari,” ulasnya
Dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak dapat dibendung, maka penggunanya yang harus mampu menyaring agar diperoleh manfaat baiknya, seperti halnya mempelajari alat music tiup saluang dan bansi, anak dapat mengikuti tutorial belajar saluang dan bansi di platform multimedia yang ada.
“sekarang gampang, buka aplikasi, kemudian cari video belajar saluang dan bansi,maka keluar tutorialnya,” tuturnya
Hendri Jornalis dapat ditemui berdagang Saluang dan Bansi di Jalan Minangkabau, Pasa Ateh, Kota Bukittinggi. dirinya sebagai pelaku UMKM memulai aktivitas berdagang sejak sore hingga malam hari, sejauh ini pantauan RRI di lapangan, memang Hendri Jornalis yang satu-satunya pedagang alat musik tersebut di kawasan itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....