Menyulam Asa di Tapian Tabiang Barasok, “Dari Luka Bencana hingga Panggung Nasional”
- 05 Sep 2026 21:42 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Suara gemericik air dan hembusan angin di sudut Tapian Tabiang Barasok sore itu menyimpan banyak cerita. Di balik keindahan alamnya yang tenang, ada jejak-jejak perjuangan, kekecewaan, dan keberanian segelintir anak muda yang enggan membiarkan mimpi kampung halamannya mati ditelan waktu.
Kini, nama Tapian Tabiang Barasok kembali menggema. Keberhasilannya menembus 30 Besar Anugerah Kampung Wisata/World Tourism Award (WIA), seolah menjadi penawar dahaga setelah diterpa gelombang ujian yang tak mudah.
Bagi Anton, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, penganugerahan ini bukan sekadar piala atau pengakuan di atas kertas. Ini adalah panggung pembuktian.
"Lolos 30 besar WIA ini jadi alasan kami untuk menunjukkan bahwa potensi Tapian Tabiang Barasok itu nyata. Kami ingin meyakinkan masyarakat bahwa tempat ini bukan sekadar tempat sepele, sekaligus membakar kembali api gotong royong warga yang sempat padam," ujar Anton dengan tatapan penuh optimisme.
Awal Mula Sebuah Mimpi
Kisah ini bermula di pertengahan 2024. Saat itu, empat hingga lima orang pemuda lokal berkumpul, gelisah melihat potensi tanah kelahiran mereka yang tersembunyi. Tangan-tangan muda ini mulai berbenah, merintis jalan, hingga akhirnya pada 21 Desember 2024, momen yang berdekatan dengan Hari Jadi Kota Bukittinggi, Tapian Tabiang Barasok resmi disajikan kepada dunia.

Semula, segalanya tampak begitu indah. Destinasi baru ini viral mendadak. Wisatawan berbondong-bondong datang, kamera para content creator tak henti mengambil gambar, hingga deretan pejabat, birokrat, dan politisi berdatangan memberikan pujian.
Namun, di balik sorak-sorai itu, badai pertama mulai mengintai. Janji-janji manis tentang bantuan anggaran bernilai miliaran rupiah dihembuskan oleh oknum-oknum politisi. Waktu berjalan, namun janji itu menguap begitu saja.
"Ternyata janji-janji besar itu zong (kosong)," kenang Anton pahit. "Kecewa itu pasti. Dampaknya fatal, semangat gotong royong warga runtuh. Banyak yang merasa sia-sia dan enggan lagi turun ke lapangan."
Diuji Bencana, Menolak Menyerah
Ujian belum usai. Pada penghujung tahun 2025, bencana alam menghantam kawasan ini. Akses jalan rusak parah, fasilitas pendukung terancam hancur, dan suasana riuh wisatawan seketika berganti sepi yang mencekam. Selama hampir dua bulan, operasional terhenti total. Tapian Tabiang Barasok bagai kota mati.
Di tengah tekanan ekonomi dan mental, pilihan paling mudah saat itu adalah menyerah. Namun, bagi Anton dan beberapa kawan sejawatnya, melambaikan bendera putih bukanlah opsi.
"Kalau ditutup total atau harus mulai lagi dari nol, habislah semangat warga. Kami sepakat, kita tidak boleh mati," tutur Anton.

Anton menegaskan, dengan modal seadanya dan tenaga yang tersisa, di awal tahun 2026, para pemuda ini kembali mengangkat cangkul dan memungut sampah.
“Mereka membuka kembali pintu Tapian Tabiang Barasok, menawarkan pesona keasrian alam hanya dengan tiket masuk Rp10.000 per orang, sebuah harga merakyat yang murni dikelola secara swadaya tanpa ketergantungan pada kas pemerintah,” tuturnya.
Fajar Baru dan Titik Balik
Ternyata, ketulusan dan kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil. Pintu yang terus mereka pertahankan akhirnya membuka jalan baru saat Tapian Tabiang Barasok lolos ke jajaran 30 Besar WIA 2026.
Kabar baik ini bertiup cepat, memanggil kembali perhatian yang sempat hilang. Tim Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat datang meninjau, disusul kunjungan mendadak dari Wali Kota Bukittinggi.
Angin segar pun berhembus. Pemerintah daerah mulai melemparkan sinyal komitmen baru: wacana pengalokasian anggaran pada APBD Perubahan tahun 2027 sebesar Rp1 Miliar, hingga rencana hibah fasilitas publik bekas pembenahan pusat kota—seperti kursi taman dan paving block trotoar—untuk mempercantik Tapian Tabiang Barasok.

Bagi Anton dan warga sekitar, janji-janji baru ini disambut dengan sikap dewasa. Harapan itu ada, namun pengawasan tetap menjadi kuncinya.
"Kami sangat bersyukur atas perhatian ini," ucap Anton menutup perbincangan. "Namun, harapan besar kami kini ada pada masyarakat dan rekan-rekan media: bantu kami mengawal komitmen ini, agar Tapian Tabiang Barasok tidak lagi menjadi tempat janji manis, tapi menjadi sumber penghidupan yang nyata bagi warga." Ungkapnya.
Sore itu, di Tapian Tabiang Barasok, hembusan angin dan dedaunan yang bergesek seolah menjadi saksi. Sebuah destinasi tidak hanya dibangun dari semen dan anggaran, tetapi dari keteguhan hati orang-orang yang mencintainya. (YPA/AGZ)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....