Sumpah Pemuda VS Pemuda Yang Disumpahi
- 27 Okt 2025 11:45 WIB
- Bukittinggi
OlehDr. Supriadi, S.Ag., M.Pd
(Dosen UIN Bukittinggi)
Kalimat singkat pada judul tulisan ini mungkin terdengar agak sedikit unik, seperti sebuah pertandingan, pakai versus segala, tapi jujur aja: hari ini kita perlu banget ngaca pada sejarah bangsa ini. Dulu, para pemuda bersumpah buat bersatu, berjuang, dan menjaga martabat bangsa dari penjajah.
Kenyataannya sekarang? Banyak pemuda justru disumpahi oleh tetangga, guru, bahkan dihujat para netizen, sebuah kekuatan yang melebihi kekuatan “ibu-ibu” yang dianggap sebagai ras paling kuat di dunia saat ini, kenapa mereka disumpahi? karena tingkah laku para pemuda hari ini bikin kita geleng-geleng kepala.
Tulisan ini bukan buat nyinyir, tapi buat refleksi diri. Kita bandingin semangat pemuda zaman dulu yang idealis dan nekat melawan penjajahan, dengan pemuda zaman now yang kadang lebih sibuk mikirin outfit nongkrong, tempat hankout dan jumlah followers. Bedanya, yang dulu berjuang buat bangsa yang tertindas, yang sekarang... berjuang untuk dapat pengakuan diri yang entah dari siapa.
Kalau kita throwback ke sejarah, Sumpah Pemuda tahun 1928 itu adalah salah satu momen paling badass dalam sejarah Indonesia. Bayangin aja, 14 tahun sebelum kemerdekaan, anak-anak muda dari berbagai daerah datang ke Batavia (Jakarta) dengan semangat membara, lalu duduk bareng, debat, dan akhirnya sepakat buat bikin ikrar:
“Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Berbahasa satu, bahasa Indonesia.”
Tiga kalimat pendek tapi efeknya kayak bom, telah mendongkrak semangat nasionalisme. Mereka nggak punya power politik, nggak punya jabatan, bahkan belum punya negara, tapi mereka udah ngomongin persatuan dan identitas nasional. Mereka nggak sibuk bikin story atau nunggu viral di TikTok. Mereka nggak ribut soal like atau engagement.
Mereka berjuang sungguhan dengan idealisme yang sekarang mungkin hanya diukur dengan “cuan”.
Lalu, kalau dilihat sekarang. Banyak anak muda yang hafal Sumpah Pemuda, tapi lupa maknanya. Kita masih satu tanah air, tapi hobinya bikin status ngajak pindah ke negara lain. Masih satu bangsa, tapi gampang baper sama perbedaan akhirnya tawuran.
Masih satu bahasa, tapi sering banget sumpah serapah yang menggunakan kata binatang yang diplesetkan agar bunyinya berubah menjadi lembut dan candaan, kata anjing telah berubah menjadi anjir, anying atau anjai.
Nggak bisa dipungkiri juga, jadi pemuda yang keren itu butuh fondasi kuat, dan itu dimulai dari pendidikan formal di sekolah, rumah tangga atau lingkungan. Rumah adalah sekolah pertama. Dari situlah anak belajar empati, tanggung jawab, dan sopan santun. Kalau dari kecil udah terbiasa dimanja gadget atau disuapin ego, ya jangan heran kalau gede nanti gampang marah cuma gara-gara komentar pedas di aplikasi X lalu stress dan sampai pada tindakan paling begok… bunuh diri.
Lalu ada pula faktor lingkungan. Nah, ini faktor yang sering banget bikin “anak baik jadi salah arah.” Banyak cerita anak-anak yang tumbuh di keluarga baik, tapi berubah gara-gara pergaulan. Dulu rajin ngaji, sekarang rajin nongkrong. Dulu semangat sekolah, sekarang semangat balap liar, judi online, mabuk dan garong. Dulu aktif karang taruna, sekarang aktif di tongkrongan sambil nge-vape dan bahas tentang kenapa tuhan tidak berpihak padanya….
Belum lagi pengaruh digital. Sekarang anak muda nggak butuh narkoba buat fly, cukup notifikasi viral atau komen pedas dari netizen. Dunia maya akan bikin kita candu pengakuan, tapi miskin arah. Kita pengen dikenal, tapi nggak tahu mau dikenal karena apa. Agaknya pepatah Arab “bul ála zam-zam, fatu’raf” (kencinglah di sumur zam-zam, maka kamu akan terkenal) sangat relevan untuk menggambarkan generasi ini, sehingga mereka rela melakukan apapun buat dikenal teman-teman satu circle.
Nah, ini adalah bagian paling jujur dan nyesek berkenaan dengan pemuda yang disumpahi. Kalau dulu para pemuda disegani karena idealisme dan semangat juangnya, sekarang banyak yang disumpahi karena kenakalannya. Banyak contoh kenakalan yang kita lihat tiap hari diantaranya; Naik motor kayak di MotoGP, tapi race-nya di gang sempit komplek dengan knalpot bising bikin warga insomnia. Nongkrong tengah malam sambil gitaran, nyanyi kenceng padahal suaranya kayak kaleng rombeng. Mabuk oplosan di pinggir jalan, fly sedikit, ngerusahnya banyak.
Tawuran cuma karena saling ejek di medsos. Main judi online, kalah lalu berubah jadi gank motor. Nonton film dewasa, lalu cari korban buat praktek. Rela jadi anak punk kabur dari rumah biar keren bukan karena ideologi, tapi karena pengen bebas dari aturan orang tua. Sok idealis, tapi malas kerja. Sok jagoan, tapi gampang baper. Sok cinta mati, tapi baru diputusin langsung minum racun tikus sambil live di Tiktok. Hehehe…
Kena gampar guru sedikit lapor polisi, ditegur bawa mobil ke sekolah, ngerengek ngadu bokap. Generasi cemen yang gampang menyerah dan putus asa, cuma karena hidup nggak seindah reels Instagram atau status WA. Nggak tahan patah hati, tapi juga nggak siap tanggung jawab. Ketagihan dunia maya, tapi lupa dunia nyata. Jadi pelaku perundungan, padahal korban insecure sendiri.
Kondisi di atas harus disadari oleh pemuda, karena kalau kita diam aja, bangsa ini bisa kehilangan arah dan muruah (harga diri). Kalau kita boleh bertanya tentang dimana organisasi pemuda yang dulu trend? Dulu ada karang taruna, remaja masjid, dan forum-forum kreatif remaja. Sekarang yang rame malah komunitas nongkrong tanpa visi, tempat ngobrol nongki-nongki, coffee shop yang isinya debat receh tanpa arah, ketawa cekikikan, bercampur laki-laki dan perempuan, alkohol dan narkoba ikut menemani kemudian berakhir di hotel melati.
Kantor pemuda di jorong entah masih ada entah tidak, kalaupun masih ada apakah masih dipakai dengan kegiatan produktif pemuda atau justru sudah jadi kandang kambing atau tempat singgah ODGJ. Mungkin bukan karena anak mudanya nggak ada, tapi karena mereka lebih sibuk sambil rebahan melakukan “meeting online” dengan berbagai platform media sosial atau menghabiskan waktu dengan scrollTikTok, video Facebook atau Youtube Short yang tanpa henti menampilkan fyp di layar smartphone mereka, sambil terus “menghisap” kantong mereka untuk terus membeli kuota tiap sebentar.
Kita terkadang sering bangga dengan jargon “generasi digital”, “generasi emas”, atau “generasi penerus bangsa”. Tapi jujur aja, dengan melihat realitas yang terjadi apakah kita justru menjadi “generasi korban digital”, “generasi cemas” atau “generasi pengerus bangsa.” Pada kenyataannya generasi hari ini hanyalah cuma generasi pengerus kuota, beli paket, kuota terus jalan, namun pikiran nggak jalan.
Sumpah Pemuda dulu bukan cuma simbol, itu pernyataan sangat serius dari anak muda yang bisa jadi penggerak bangsa untuk merdeka. Tapi sekarang, sumpah yang paling sering kita dengar malah, “Sumpah, aku nggak buka chat mantan,” atau “Sumpah, aku nggak main ML pas jam kuliah.” Kalau Bung Karno dulu bilang, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” mungkin kalau beliau hidup sekarang, ucapannya bakal berubah jadi, “Beri aku sepuluh pemuda yang nggak sibuk scroll TikTok, baru deh dunia bisa kuguncang.”
Tapi, harapan belum mati. Masih banyak kok pemuda hebat di negeri ini. Ada yang bikin start-up, ada yang jadi relawan sosial, ada yang bikin konten edukatif, bahkan ada yang berani bersuara soal isu-isu sosial tanpa takut dibully. Cuma masalahnya, yang begituan sering kalah sorotan dari yang viral karena hal-hal konyol dan buka aurat di layar fyp.
Sekarang saatnya kita balik lagi ke makna sejati Sumpah Pemuda. Bukan sekadar upacara atau lomba nyanyi atau baca puisi perjuangan. Tapi sumpah hidup kita buat jadi manusia yang berguna. Kita nggak harus jadi pahlawan nasional, cukup jadi pahlawan kecil buat diri dan lingkungan sendiri, bantu orang, peduli sekitar, belajar sungguh-sungguh, nggak gampang nyerah dan bertekad menjadi generasi muda yang tangguh.
Indonesia nggak butuh pemuda sempurna. Indonesia cuma butuh pemuda yang mau berubah menjadi lebih baik.Yang nggak cuma bisa ngomong, tapi bergerak maju. Yang nggak cuma viral, tapi berdampak. Yang nggak cuma eksis di medsos, tapi berarti di dunia nyata.
Jadi, pertanyaannya mau pilih yang mana? Jadi pemuda yang bersumpah, atau pemuda yang disumpahi? Kalau masih bingung, ingat aja: masa depan bangsa ini nggak akan ditulis oleh yang paling hits, tapi oleh yang paling serius berbuat. Sumpah Pemuda 1928 lahir dari keberanian, bukan dari kenikmatan, dari kesadaran, bukan dari keisengan. Jadi jangan biarin sejarah cuma jadi kenangan. Jadikan semangat itu jadi bahan bakar buat hidup lo hari ini.
Karena kalau pemuda zaman dulu bisa bersatu tanpa sinyal dan kuota, masa kita yang hidup di era serba canggih malah sibuk saling cekcok di dunia maya? Ayo, bangun lagi semangat itu. Buktikan kalau kita bukan dan tidak mau menjadi generasi yang disumpahi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....