Jendela Budaya di Balik Lensa Erison J. Kambari
- 14 Sep 2025 23:40 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Pagi itu, langit Bukittinggi menggantungkan awan kelabu. Gerimis halus turun perlahan, membasahi daun-daun besar yang menaungi kawasan Benteng Fort de Kock.
Gerimis tipis masih turun ketika langkah Erison J. Kambari menapak pelan di pelataran Benteng Fort de Kock. Tetes hujan menyentuh lensa kameranya, tapi pria paruh baya itu tampak tenang, seolah sudah terbiasa berdamai dengan cuaca. Udara pagi membawa aroma tanah basah, di sela kicauan burung pagi yang bersahutan dan berlompatan dari ranting ke ranting
“Pagi ini saya baru saja dari Tabiang Takuruang,” katanya membuka percakapan, sambil mengelap lensa kamera. “Kabutnya tebal sekali, tapi justru itu yang saya cari. Ada kesan magis di sana, seperti negeri di atas awan.”
Hampir setiap pagi selepas shalat Subuh, ia berjalan kaki mengitari kota Bukittinggi, menyusuri jalur-jalur sepi yang biasa luput dari sorot kamera wisatawan.
“Rutinitas ini bukan sekadar olahraga,” ujarnya tersenyum. “Saya berjalan, mengamati, lalu memotret. Bukittinggi ini kaya sekali, dan saya ingin menangkap denyut kehidupan serta keindahannya yang muncul secara alami, tanpa setting apa pun.”
Erison J. Kambari, atau yang akrab disapa EJK, adalah fotografer senior yang telah belasan tahun mengabadikan budaya dan alam Minangkabau. Dunia seni begitu mengalir deras dalam darahnya, tak hanya piawai memotret momen indah.

Namun ia sebelumnya juga pernah menggeluti seni lukis kanvas dan pensil serta giat menulis kreatif di berbagai media .Tak heran jika di balik setiap jepretan yang ia pelajari secara otodidak, ada cerita yang ia abadikan melalui judul dan keterangan pada photo yang sarat makna dengan kata-kata indah.
Selama bertahun-tahun, kamera EJK telah menelusuri jejak budaya yang tersembunyi di balik arsitektur rumah gadang, langkah kaki penari piring, hingga guratan wajah para tetua adat. Baginya, Bukittinggi dan ranah Minang bukan hanya objek visual, melainkan narasi hidup yang terus berkembang dan segala sisi ia kemas secara natural,menjadi ciri khas dari karya-karyanya.
“Fotografi bukan sekadar soal gambar bagus, tapi gambar yang menarik ” ujarnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara hujan. “Ini tentang menangkap ruh. Ruh tempat, ruh orang-orang, ruh budaya," ulasnya.
Dia menunjukkan sebuah foto di ponselnya, potret bernuansa hitam putih memperlihatkan seorang lelaki tua berjalan disamping kerbaunya dengan latar sebuah Rumah Gadang tua yang nyaris rubuh. “Ini bukan sekadar potret tapi ini adalah momen yang tidak akan pernah terulang lagi,” katanya. “Sekarang Rumah Gadang ini sudah tak ada lagi, sudah rubuh”.
Menurut EJK, Bukittinggi dan ranah Minang ibarat galeri budaya terbuka. Lanskapnya yang berbukit, kabut pagi yang menggantung di lereng Gunung Singgalang, hingga warna-warni kehidupan pasar tradisional, semuanya membentuk mozaik visual yang kaya dan dinamis.
“Kadang saya duduk berjam-jam hanya untuk menunggu momen yang pas. Bukan karena ingin hasil dramatis, tapi karena itu bisa mengungkap suasana yang tak bisa diucapkan kata-kata” ujarnya, sambil menatap ke arah kota yang terlihat dari pepohonan pinus.
Dengan gerimis yang terus turun, ia membuka tas kamera, mengeluarkan sebuah lensa tele. “Kadang, suasana sendu seperti ini justru memberi ‘rasa’ yang lebih kuat dalam foto. Ada nuansa, ada emosi,” katanya sambil mengatur fokus ke arah jembatan Limpapeh yang menghubungkan benteng Fort de Kock dengan Taman Margasatwa Kinantan.

Sebagai fotografer yang telah menjelajahi hampir seluruh kabupaten di Sumatera Barat, EJK punya pandangan khas terhadap budaya Minangkabau. Ia tak hanya memburu momen-momen indah secara visual, tetapi juga mencoba menangkap esensi dari sebuah tradisi, ekspresi wajah, bahkan atmosfer yang melingkupi sebuah acara adat.
“Fotografi bukan hanya tentang estetika,” tegasnya. “Ini tentang identitas. Lewat gambar, saya ingin generasi muda tahu siapa mereka. Dari pakaian, dari tarian, dari lanskap nagari semuanya punya makna," jelasnya.
Meski telah memotret ribuan gambar, EJK tidak pernah merasa cukup. Baginya, setiap pagi adalah halaman kosong yang menunggu untuk diisi. Kamera hanyalah alat, sementara rasa dan kepekaan adalah kunci utama.
“Fotografi bagi saya adalah seni bercerita lewat gambar yang sanggup menggugah orang yang melihatnya serta menjadi salah satu komponen promosi budaya " tambahnya.
Ia aktif membagikan karya-karyanya di pameran lokal maupun nasional, dan kerap diminta mengisi pelatihan fotografi budaya. Namun, di balik semua itu, hasrat utamanya tetap sederhana menyimpan jejak, sebelum semuanya hilang ditelan perubahan.
“Saya hanya ingin, saat orang melihat foto saya, mereka bisa berkata ,Ini rumah kita, ini budaya dan alam kita, Ini warisan kita yang harus dijaga dan bagi mereka yang di rantau bisa mengobati kerinduan serta yang belum mengenal akan tertarik untuk datang kesini.” ujarnya sembari melangkahan kaki menelusuri Jembatan Limpapeh memotret Bukittinggi dari ketinggian.
Dari balik lensa Erison J. Kambari, Bukittinggi bukan sekadar kota kecil di ranah Minang. Ia adalah jendela budaya, yang selalu terbuka bagi siapa pun yang mau melihat lebih dalam, lebih peka, dan lebih sadar.
Gerimis mulai reda. Cahaya pagi perlahan menyelinap dari balik awan. EJK berdiri, menggantungkan kameranya kembali ke leher. Satu pagi lagi telah ditangkap, disimpan dalam bentuk cahaya. Dan Bukittinggi, sekali lagi, tersimpan dalam lensa yang tak hanya melihat tapi juga memahami. (AS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....