“Harimau adalah Minang" Kampanye Konservasi Satwa dan Identitas Budaya

  • 10 Apr 2025 07:57 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi: Harimau Sumatera bukan hanya bagian dari ekosistem hutan tropis yang semakin terancam punah, tetapi juga simbol identitas kultural masyarakat Minangkabau. Pesan inilah yang diangkat oleh komunitas lingkungan Sumatera Wild Adventure melalui kampanye bertajuk "Harimau adalah Minang", sebuah ajakan untuk melihat konservasi dari sudut pandang budaya dan empati ekologis.

Pendiri Sumatera Wild Adventure, Novi Fani Rofika, mengungkapkan bahwa gagasan tersebut lahir dari pengalaman pribadinya saat melakukan investigasi lapangan pada tahun 2018, ketika terjadi peningkatan konflik antara manusia dan harimau di Koto Rantang, Palupuah, Kabupaten Agam.

“Waktu itu situasinya cukup genting. Tapi dari peninjauan langsung, saya menemukan bahwa tidak semua masyarakat menganggap harimau sebagai ancaman. Banyak yang justru menghormati keberadaannya,” ujar Novi dalam dialog bersama Programa Empat RRI Bukittinggi pada Senin (24/03/2025).

Melalui serangkaian wawancara dengan warga di sekitar wilayah jelajah harimau, Novi melihat adanya kekayaan pemahaman lokal yang belum banyak diangkat ke permukaan. Masyarakat setempat, khususnya yang masih memegang nilai-nilai adat, menganggap harimau sebagai bagian dari alam yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka.

“Tagline 'Harimau adalah Minang' kami ciptakan sebagai bentuk pengakuan terhadap nilai budaya yang sudah ada. Harimau bukan sekadar satwa liar, tapi juga simbol kehormatan, penjaga hutan, bahkan dalam beberapa cerita rakyat, dia digambarkan sebagai makhluk spiritual,” jelasnya.

Melalui kampanye ini, Sumatera Wild Adventure tidak hanya ingin membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian harimau Sumatera sebagai spesies yang terancam punah, tetapi juga ingin membangkitkan kembali narasi-narasi lokal yang bisa menjadi kekuatan dalam mendukung konservasi berbasis komunitas.

Novi menekankan bahwa upaya penyelamatan harimau tidak bisa hanya bertumpu pada pendekatan teknis atau hukum. Keterlibatan masyarakat, khususnya dengan menghargai kearifan lokal dan identitas budaya, merupakan kunci penting dalam menciptakan harmoni antara manusia dan satwa.

“Kami ingin generasi muda Minang tahu bahwa menjaga harimau juga berarti menjaga warisan budaya mereka. Ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tapi tentang merawat keseimbangan alam dan nilai-nilai luhur yang telah lama hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Dengan semangat ini, Sumatera Wild Adventure terus mendorong partisipasi aktif masyarakat, khususnya kalangan muda, untuk terlibat dalam kegiatan edukasi, advokasi, dan pelestarian harimau Sumatera sebagai bagian dari upaya membangun masa depan yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....