Prasasti Saruaso I, Pentasbihan Raja Adityawarman sebagai Wisesadharani
- 02 Des 2024 09:16 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Tanah Datar: Prasasti Saruaso I adalah salah satu peninggalan sejarah yang mencatatkan pentingnya Raja Adityawarman dalam dunia keagamaan dan kebudayaan Majapahit pada abad ke-14. Melansir laman kebudayaantanahdatar.com, terbit pada tahun 1297 Saka (atau 1375 Masehi), prasasti ini menjadi bukti penting tentang perjalanan spiritual dan keagamaan Raja Adityawarman yang tercatat sebagai penganut Buddha Mahayana sekte Bairawa.
Prasasti ini juga menandakan penobatan sang raja sebagai wisesa dharani, sebuah gelar keagamaan yang menunjukkan kedudukannya sebagai perwujudan Buddha.
Secara arkeologis, Prasasti Saruaso I terletak di pinggir jalan raya Batusangkar-Saruaso, di Sumatera Barat. Keberadaannya yang masih "in situ" (tetap di tempat asalnya) menjadikannya salah satu benda cagar budaya yang sangat berharga. Kini prasasti ini dilindungi dengan sebuah cungkup pelindung untuk menjaga keutuhannya dari kerusakan.
Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno yang berbahasa Sanskerta, dua bahasa yang menjadi penghubung dalam penyebaran kebudayaan dan agama pada masa itu. Prasasti ini dipahatkan pada batu pasir kwarsa yang berwarna coklat keputihan. Tulisan pada prasasti ini tergores dengan halus pada sisi utara dan timur batu, yang keduanya memiliki permukaan datar.
Proses penulisan dimulai dari sisi timur, kemudian melingkar ke arah depan dan kembali ke baris kedua di sisi timur, sehingga membentuk pola melingkar yang khas. Bagian atas prasasti dibiarkan alami dan tidak diproses lebih lanjut.
Prasasti Saruaso I tidak hanya menyimpan nilai sejarah yang mendalam mengenai keagamaan dan kebudayaan pada masa itu, tetapi juga menggambarkan pengaruh kuat agama Buddha di Nusantara, khususnya dalam kehidupan kerajaan. Penobatan Raja Adityawarman sebagai Wisesadharani menunjukkan peranannya dalam menjaga dan memajukan ajaran Buddha Mahayana di wilayah tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....