Gen Z Mengubah Cara Dunia Berjualan
- 19 Agt 2026 09:27 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Dulu, orang mengenal produk dari iklan televisi, billboard, atau rekomendasi dari orang terdekat, tetapi sekarang satu video pendek bisa membuat produk tiba-tiba ramai diburu. Perubahan ini tidak lepas dari besarnya populasi Gen Z yang di Indonesia mencapai 24,93% dari total penduduk, menjadikannya generasi terbesar berdasarkan SUPAS 2025.
Gen Z juga tumbuh sebagai generasi yang sangat dekat dengan internet, sehingga cara mereka menemukan, menilai, hingga membeli produk ikut berubah. Survei APJII 2026 mencatat penetrasi internet Gen Z mencapai 89,02%, sementara aktivitas e-commerce dan layanan digital menjadi salah satu alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan internet, dengan porsi 18,7%.
Buat Gen Z, jualan bukan lagi sekadar menawarkan “barang bagus dengan harga murah”, tetapi tentang bagaimana sebuah produk bisa masuk ke kehidupan mereka. Konten yang terasa jujur, relatable, menghibur, dan dibuat oleh manusia nyata sering kali lebih menarik daripada iklan yang terlalu sempurna, apalagi ketika produk tersebut hadir lewat review, live shopping, atau rekomendasi kreator yang mereka percaya.
Menariknya, perubahan ini juga membuat batas antara konten dan transaksi semakin tipis, orang bisa melihat video, tertarik, membaca komentar, bertanya kepada penjual, lalu checkout tanpa pernah meninggalkan platform. Di Indonesia sendiri, Kementerian Perdagangan mencatat pengguna aktif media sosial mencapai 143 juta orang pada 2025, sekaligus menegaskan bahwa media sosial kini menjadi ruang penting bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk dan membangun hubungan dengan konsumen.
Pada akhirnya, Gen Z bukan hanya sedang mengubah cara membeli, tetapi juga memaksa bisnis untuk mengubah cara berjualan. Di era ini, brand yang ingin bertahan tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang mau kita jual?”, tetapi harus mulai bertanya, “Cerita apa yang ingin kita bangun, masalah apa yang ingin kita bantu selesaikan, dan alasan apa yang membuat orang percaya kepada kita?” Karena bagi generasi yang hidup berdampingan dengan algoritma, perhatian memang bisa dibeli, tetapi kepercayaan tetap harus diperjuangkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....