Krisis Ekonomi Melanda, Pakar UIN Bukittinggi Bedah Peluang "Lipstick Effect"

  • 10 Jun 2026 09:24 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Krisis ekonomi global sering kali diidentikkan dengan pengetatan anggaran dan penghematan besar-besaran. Namun, di balik lesunya daya beli masyarakat terhadap aset besar seperti properti, muncul fenomena unik bernama Lipstick Economy atau Lipstick Effect, di mana industri kecantikan, produk estetika, dan kesenangan kecil justru mengalami lonjakan penjualan yang signifikan.

Fenomena ini dikupas tuntas dalam program dialog radio "Portal Digital" yang disiarkan oleh RRI Bukittinggi. Diskusi ini menghadirkan Ketua Program Studi Bisnis Digital UIN Bukittinggi, Rusydi Fauzan, S.M., M.M., serta pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Bisnis Digital UIN Bukittinggi, Nadya Ramadani dan Zahra Tunisa.

Peralihan dari Kemewahan Makro ke Mikro

Rusydi Fauzan menjelaskan bahwa secara historis, istilah ini lahir saat resesi besar melanda Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Ketika inflasi melonjak dan impian masyarakat untuk membeli rumah atau mobil mewah semakin jauh dari jangkauan, mereka mengalihkan daya belinya pada produk kemewahan kecil yang mampu memberikan kepuasan instan (dopamin) setelah lelah bekerja.

"Di tengah krisis global saat ini, fenomena serupa kembali terulang. Kemewahan besar yang mahal tidak sanggup dibeli, sehingga masyarakat beralih ke kemewahan kecil (micro-luxury) seperti membeli kopi premium, produk perawatan kulit (skincare), hingga tiket konser. Banyak miliarder justru lahir di tengah krisis karena mampu membaca pergeseran konsumsi ini," ujar Rusydi.

Perilaku ini sangat terasa di kalangan Generasi Z (Gen Z). Perwakilan mahasiswa, Nadya Ramadani, mengungkapkan contoh nyata di lingkungan kampus. "Mahasiswa mungkin berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekaligus, tetapi mereka tidak ragu mengeluarkan uang Rp20.000 hingga Rp30.000 setiap hari hanya untuk membeli kopi yang estetik sebagai bentuk self-reward setelah penat kuliah," kata Nadya.

Gengsi Digital dan "Flexing Value"

Sementara itu, Zahra Tunisa menambahkan bahwa di era digital saat ini, nilai sebuah produk bukan lagi sekadar fungsi primernya, melainkan nilai identitas atau flexing value di media sosial.

"Generasi kami adalah generasi visual. Produk dengan desain minimalis, kemasan estetik, dan nama yang unik akan jauh lebih cepat diserbu karena sangat instagramable untuk diunggah ke media sosial demi mendapatkan pengakuan sosial," tutur Zahra.

Terkait taktik menghadapi algoritma media sosial yang kerap berubah, Zahra—yang memiliki konten digital dengan capaian hingga 500.000 penonton ini—menekankan pentingnya konsistensi, pemetaan jadwal unggah (content calendar), serta kejelian dalam memanfaatkan tren yang sedang viral.

Strategi UMKM Lokal Memanfaatkan Momentum

Guna membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal berselancar di tengah tren Lipstick Economy, Rusydi Fauzan membagikan tiga strategi utama:

  1. Affordable Premium Product: Pelaku usaha tidak boleh ragu berinvestasi lebih pada kemasan (packaging). Produk yang dikemas secara premium dan mewah terbukti memiliki daya tarik beli yang jauh lebih tinggi secara daring.

  2. Micro Luxury: Menyediakan variasi produk yang memberikan kesan mewah namun tetap dengan harga yang terjangkau bagi kantong masyarakat luas.

  3. Konsistensi di Media Sosial: Memanfaatkan figur pembuat konten (influencer) atau rutin melakukan siaran langsung (live streaming) untuk membangun kedekatan emosional serta memicu belanja impulsif (impulsive buying) dari konsumen.

Di akhir sesi, Rusydi mengumumkan bahwa Prodi Bisnis Digital UIN Bukittinggi saat ini tengah bekerja sama dengan Rumah BUMN Bukittinggi untuk memberikan pembinaan pemasaran digital secara gratis kepada 20 UMKM di Bukittinggi, Agam, dan Tanah Datar. Pihaknya membuka kesempatan luas bagi 100 UMKM lainnya pada semester depan untuk dibantu dalam pembuatan konten promosi digital tanpa dipungut biaya.

"Krisis ekonomi bukanlah akhir dari segalanya. Di balik setiap tekanan, selalu ada celah psikologis dan emosional konsumen yang bisa dipenuhi dengan kreativitas seni serta ketepatan strategi digital," tutup pembawa acara, Dedi Putra. (DP/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....