Chatib Sulaiman Kisah Pejuang yang Tak Terlupakan
- 28 Okt 2025 05:30 WIB
- Bukittinggi
KBRN Bukittinggi : Chatib Sulaiman lahir di Nagari Sumpur, Tanah Datar, pada tahun 1906, sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara. Ia tumbuh dari keluarga yang religius dan kaya budaya—ayahnya adalah pedagang rempah, sedangkan ibunya seorang guru mengaji
Chatib mengenyam pendidikan di HIS Adabiah dan MULO di Padang. Ia kemudian menjadi guru dan aktif berkecimpung dalam dunia pergerakan; mendirikan KIM (1931) dan memperkuat PNI-Baru (1932). Semasa pendudukan Jepang, dirinya dilibatkan dalam Gyugun—cikal bakal TNI di Sumbar.
Sebagai Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Chatib merancang strategi untuk merebut kembali Payakumbuh dari Belanda. Sayangnya, saat rapat strategis pada 15 Januari 1949 di Lurah Kincia, Nagari Situjuah Batua, dilakukan serangan mendadak oleh Belanda saat subuh. Chatib gugur saat itu juga, bersama puluhan rekan perjuangannya.
Nama Chatib kini dikenang melalui nama jalan di berbagai kota Sumbar—seperti Padang, Bukittinggi, Padangpanjang, Payakumbuh, serta Limapuluh Kota. Jalan ini juga menjadi titik Car Free Day (CFD), tempat warga berkumpul dan mengenang perjuangan beliau.
Sejak 1970-an hingga kini, keluarga dan pemerintah daerah terus mengusulkan Chatib sebagai Pahlawan Nasional, namun belum berhasil. Berbagai seminar, kajian, dan dukungan resmi telah dilakukan, termasuk oleh Gubernur Sumbar.
Sejarawan mencatat bahwa di saat-saat terakhir, Chatib berani bertahan dan bahkan menembakkan senjata—“sambil menyandang buntalan dokumen Gubernur Militer…”—hingga akhirnya tewas tertembak Ia dikenal sebagai tokoh yang gigih, tidak mengincar jabatan, dan penuh dedikasi kepada bangsa.
Chatib Sulaiman adalah simbol perjuangan militan dari Sumatera Barat yang terus dihidupkan namanya melalui ruang publik, seminar sejarah, dan dorongan komunitas lokal. Meskipun belum resmi diakui sebagai pahlawan nasional, nilai-nilai perjuangannya masih menginspirasi generasi kini dan yang akan datang—sebuah warisan yang patut diapresiasi dan terus dikenang. (ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....