Dari Halaman Rumah ke Layar Ponsel, ke Mana Perginya Permainan Tradisional?

  • 14 Sep 2026 09:43 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Dulu, sore hari menjadi waktu yang paling ditunggu anak-anak. Setelah pulang sekolah dan menyelesaikan tugas, mereka biasanya berlari ke halaman, lapangan, atau rumah teman untuk bermain bersama tanpa memikirkan baterai ponsel maupun jaringan internet.

Ada yang bermain congklak, kelereng, lompat tali, petak umpet, engklek, hingga gobak sodor. Permainan-permainan sederhana itu mungkin terlihat biasa, tetapi bagi anak-anak pada masanya, semuanya bisa menjadi alasan untuk tertawa dan berkumpul hingga matahari mulai terbenam.

Di Sumatera Barat, anak-anak juga mengenal berbagai permainan yang tumbuh dari lingkungan masyarakat Minangkabau. Sipak rago dan gasiang misalnya, menjadi contoh permainan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan keterampilan, ketangkasan, dan kebersamaan.

Menariknya, permainan tradisional tidak membutuhkan banyak peralatan. Sebuah tali, beberapa kelereng, papan congklak, atau bahkan halaman kosong sudah cukup untuk membuat anak-anak berkumpul dan menciptakan keseruan mereka sendiri.

Sekarang, suasananya mulai berbeda. Anak-anak memang masih bermain, tetapi sebagian besar hiburan bisa ditemukan melalui layar ponsel, tablet, komputer, atau perangkat permainan digital sehingga kesempatan untuk bermain secara langsung bersama teman semakin berkurang.

Bukan berarti teknologi adalah sesuatu yang buruk. Permainan digital juga memiliki manfaat dan menjadi bagian dari perkembangan zaman, tetapi anak-anak tetap membutuhkan pengalaman bermain secara langsung agar mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama, bergerak, dan menghadapi teman dalam situasi nyata.

Permainan seperti gobak sodor mengajarkan anak untuk menyusun strategi bersama tim, sementara engklek melatih keseimbangan dan ketangkasan. Congklak juga membuat anak belajar berhitung dan berpikir beberapa langkah ke depan tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran.

Yang menarik, permainan tradisional juga mengajarkan anak menerima kekalahan. Tidak ada tombol restart ketika kalah dalam permainan, sehingga anak belajar mencoba lagi, menerima hasil, dan tetap berteman setelah permainan selesai.

Lalu, siapa yang bisa memperkenalkannya kembali? Jawabannya bukan hanya sekolah atau pemerintah, tetapi juga orang tua, keluarga, komunitas, dan masyarakat yang masih memiliki kenangan serta pengetahuan tentang permainan tersebut.

Caranya pun tidak harus melalui kegiatan besar. Orang tua bisa mengajak anak bermain congklak di rumah, sekolah dapat mengadakan hari permainan tradisional, sementara komunitas bisa membuat kegiatan bermain bersama di ruang terbuka.

Media sosial bahkan bisa menjadi teman dalam upaya tersebut. Cerita tentang permainan masa kecil, cara bermain sipak rago, membuat gasing, atau lomba permainan tradisional dapat dikemas menjadi konten menarik sehingga anak-anak zaman sekarang melihat bahwa permainan tanpa layar pun bisa sangat menyenangkan.

Pada akhirnya, yang perlu diselamatkan bukan hanya nama sebuah permainan. Yang lebih penting adalah kebiasaan berkumpul, tertawa bersama, bergerak, berkomunikasi, dan menciptakan kenangan yang dahulu begitu sederhana tetapi ternyata sangat berarti.

Mungkin anak-anak hari ini tidak akan merasakan persis masa kecil generasi sebelumnya. Tetapi selama masih ada orang yang mau mengajak mereka bermain, mengenalkan aturan, dan memberikan ruang untuk mencoba, permainan tradisional masih memiliki kesempatan untuk kembali hidup di tengah dunia yang semakin digital.(DEP)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....