Perbedaan Pelaminan di Minangkabau Darek dan Pasisia

  • 07 Sep 2026 09:35 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pelaminan Minangkabau memiliki ciri khas yang berbeda antara wilayah darek atau pedalaman dengan pasisia atau pesisir. Perbedaan tersebut terlihat dari warna dasar, perpaduan kain jalin atau balapiah, serta bentuk bingkai yang digunakan dalam dekorasi adat.

Pelaminan darek berkembang di kawasan Luhak Nan Tigo, yakni Tanah Datar, Agam, dan Limapuluh Koto. Ciri utamanya menggunakan warna dasar yang lebih gelap dan pekat, seperti merah kasumbo dan hijau kumbang janti, yang mencerminkan karakter adat masyarakat pedalaman Minangkabau.

Pada pelaminan darek, kain jalin atau balapiah umumnya memadukan tiga warna kebesaran adat Minangkabau, yaitu merah, kuning, dan hitam yang dikenal sebagai warna Marawa. Bentuk bingkainya dibuat tegak lurus dengan susunan tiga sisi, yaitu bagian kiri, kanan, dan atas yang terlihat tegas.

Sementara itu, pelaminan pasisia berkembang di wilayah pesisir seperti Padang, Pariaman, dan Pesisir Selatan. Dekorasi ini menggunakan warna dasar yang lebih cerah, seperti hijau laut, merah lado, dan kuning cerah, yang memberikan kesan lebih terbuka dan dinamis.

Perbedaan lainnya terlihat pada kain jalin pelaminan pasisia yang memadukan warna merah, kuning, dan biru. Bentuk kerangka kain jalinannya juga dibuat lebih melengkung dan dinamis, mencerminkan kekayaan variasi budaya Minangkabau antara wilayah darek dan rantau. (ER/YPA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....