Slow Living,Tren Hidup Santai untuk Hidup Lebih Bermakna
- 19 Agt 2026 09:28 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Pernah merasa sehari penuh sibuk, tapi ketika malam datang justru bertanya, “Tadi aku ngapain saja, ya?” Di tengah hidup yang serba cepat, slow living hadir bukan untuk mengajak kita menjadi malas, tetapi untuk belajar menjalani hidup dengan lebih sadar, tidak terburu-buru, dan menikmati hal-hal kecil yang sering terlewat.
Tren ini terasa semakin relevan ketika banyak orang menghadapi tekanan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Data Gallup 2026 menunjukkan hanya sekitar 20% pekerja di dunia yang merasa benar-benar terlibat (engaged) dengan pekerjaannya, sementara kesejahteraan pekerja global juga masih menjadi tantangan.
Di Indonesia pun, persoalan kesejahteraan di tempat kerja tidak bisa dianggap sepele. Data Gallup menunjukkan 14% pekerja Indonesia mengalami stres dalam jumlah besar pada hari sebelumnya, sebuah angka yang menunjukkan bahwa menjadi produktif sepanjang waktu tidak selalu berarti kita sedang baik-baik saja.
Karena itu, slow living bisa dimulai dari hal-hal sederhana, makan tanpa sambil melihat layar, menikmati perjalanan tanpa terus mengecek notifikasi, meluangkan waktu untuk keluarga, atau sekadar duduk menikmati kopi tanpa merasa harus melakukan sesuatu. Intinya bukan memperlambat semua hal, tetapi memilih mana yang memang layak mendapatkan waktu dan perhatian kita.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat sampai. Slow living mengingatkan kita bahwa sesekali berhenti, menarik napas, dan menikmati perjalanan bukan berarti tertinggal, bisa jadi justru di situlah kita benar-benar mulai merasakan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....