Mandoa Kamatian 2x7, Tradisi Minangkabau

  • 10 Agt 2026 11:35 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Tanah Datar - Tradisi mandoa kamatian 2x7 masih menjadi bagian dari rangkaian adat kematian masyarakat Minangkabau. Tradisi ini dilaksanakan pada hari ke-14 setelah seseorang meninggal dunia sebagai bentuk doa bersama untuk almarhum atau almarhumah.

Mandoa 2x7 merupakan sebutan untuk mandoa ampek baleh hari. Angka 2x7 merujuk pada hitungan dua kali tujuh hari atau hari ke-14 setelah pemakaman.

Tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat untuk berkumpul serta memberikan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat membaca ayat suci Al-Qur'an, zikir, selawat, serta doa bersama. Di sejumlah nagari, rangkaian tersebut juga diisi dengan badikie, yakni lantunan zikir dengan irama khas yang dipimpin oleh perangkat agama setempat.

Pelaksanaan mandoa biasanya dipimpin oleh Tuangku, Labai, atau tokoh agama yang dipercaya masyarakat. Setelah rangkaian doa selesai, keluarga duka umumnya menyediakan jamuan makanan bagi warga yang hadir.

Jamuan tersebut menjadi bagian dari semangat berbagi dan sedekah keluarga kepada masyarakat yang datang mendoakan. Kerabat dan tetangga juga ikut membantu menyiapkan berbagai kebutuhan selama kegiatan berlangsung.

Di wilayah Luhak Nan Tigo, termasuk Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, pelaksanaan mandoa dapat memiliki kekhasan sesuai adat dan kebiasaan masing-masing nagari. Hal ini sejalan dengan prinsip Minangkabau, lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Di Pariangan, misalnya, lantunan zikir dan badikie menjadi salah satu bagian yang memberi warna pada kegiatan mandoa. Keterlibatan keluarga besar, kerabat, tetangga, hingga urang sumando juga memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong dalam tradisi tersebut.

Mandoa kamatian dalam masyarakat Minangkabau pada dasarnya merupakan rangkaian yang berlangsung dalam beberapa tahapan. Di antaranya mandoa manigo hari pada hari ketiga, mandoa manujuah hari pada hari ketujuh, mandoa ampek baleh hari pada hari ke-14, kemudian dilanjutkan dengan doa hari ke-40 dan hari ke-100 di sejumlah daerah.

Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara nilai agama Islam dan adat Minangkabau yang dikenal dengan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Selain mendoakan orang yang telah meninggal, mandoa juga memiliki nilai sosial. Kehadiran keluarga, bako, kamanakan, tetangga, dan masyarakat sekitar menjadi bentuk kepedulian sekaligus membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

Bagi masyarakat Minangkabau, tradisi mandoa bukan sekadar kegiatan setelah kematian. Di dalamnya terdapat nilai keagamaan, kebersamaan, silaturahmi, serta semangat gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.(ER)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....