Empat Bagian Utama Membentuk Suntiang Minangkabau

  • 10 Agt 2026 09:01 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittingggi — Suntiang merupakan mahkota tradisional yang menjadi salah satu ciri khas busana pengantin perempuan Minangkabau. Selain memperindah penampilan anak daro, suntiang juga memiliki bentuk, susunan, dan makna yang berkaitan dengan kehidupan serta tanggung jawab perempuan dalam adat Minangkabau.

Secara umum, struktur suntiang terdiri atas beberapa bagian yang disusun secara bertingkat dari bawah ke atas. Susunan tersebut umumnya membentuk tingkatan dalam jumlah ganjil, antara tujuh hingga sebelas tingkat, yang secara tradisional dikaitkan dengan kedewasaan dan tanggung jawab.

Bagian pertama adalah bungo sarunai yang berada pada lapisan paling bawah. Ornamen ini umumnya disusun dalam tiga hingga lima lapis dan berfungsi sebagai fondasi atau kerangka dasar untuk menopang berbagai hiasan di bagian atas.

Di atas bungo sarunai terdapat suntiang gadang atau bungo gadang. Bagian ini menjadi struktur utama yang memberikan bentuk setengah lingkaran dan kesan megah pada mahkota pengantin. Hiasannya dapat berupa berbagai motif flora dan fauna, seperti burung merak, kupu-kupu, bunga mawar, hingga motif mansi-mansi atau sarai sarumpun.

Selanjutnya terdapat kambang goyang yang ditempatkan pada bagian atas suntiang. Hiasan ini berupa ornamen berbentuk bunga yang terbuat dari lempengan logam dengan tangkai lentur. Ketika pengantin bergerak, ornamen tersebut akan bergoyang sehingga memberikan kesan dinamis dan anggun.

Sementara itu, kote-kote merupakan hiasan yang dipasang di sisi kanan dan kiri wajah pengantin. Bentuknya berupa untaian manik-manik, logam, atau perhiasan yang menjuntai di sekitar pipi dan telinga. Selain sebagai pelengkap, kote-kote juga berfungsi membingkai wajah anak daro.

Keempat bagian tersebut membentuk kesatuan yang menjadi ciri khas suntiang sebagai mahkota pengantin perempuan Minangkabau. Setiap ornamen tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi juga mencerminkan kekayaan tradisi dan identitas budaya masyarakat Minangkabau.

Suntiang hingga kini tetap digunakan dalam berbagai prosesi pernikahan adat Minangkabau. Keberadaannya menjadi bagian penting dari warisan budaya yang terus dipertahankan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. (ER/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....