Akhlak Sebagai Benteng Pertahanan Kebudayaan

  • 28 Jul 2026 07:36 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Derasnya arus modernisasi dan adopsi kecerdasan buatan saat ini memicu maraknya simplifikasi nilai-nilai kemanusiaan di kalangan generasi muda. Hal tersebut memicu kekhawatiran karena perangkat teknologi tidak dibekali kemampuan untuk mengajarkan kepekaan rasa dan etika sosial tradisional.

Wakil Sekretaris LKAAM Kota Bukittinggi, Erick Dt. Rangkayo Satie, dalam dalam program Adaik Salingka Nagari di Programa 4 dan kanal Youtube RRI Bukittinggi mengingatkan, bahwa esensi kepemimpinan adat Minangkabau bertumpu pada pembentukan karakter. Tanpa adanya penanaman nilai moral yang kuat, eksistensi kebudayaan daerah akan kehilangan fondasi utamanya dan terkikis oleh zaman.

"Menjadi mamak itu amanah berat karena tugasnya merawat tatanan akhlak, raso, jo pareso, sentuhan nilai spiritual dan humanis yang diberikan oleh pemangku adat diklaim tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma digital setangguh apa pun." terangnya.

Sarana pelestarian budaya ini ulas Erick Dt. Rangkayo Satie, menuntut adanya komitmen bersama agar adat tidak ditinggalkan dan tradisi tidak dilupakan. Langkah konkrit dilakukan dengan cara mentransformasikan pola komunikasi kultural agar tetap selaras dan relevan dengan gaya hidup generasi masa depan.

"Lewat internalisasi nilai akhlak ini identitas anak kemenakan bakal terjaga karena memiliki kompas moral yang kokoh," tukasnya. (DR/YPA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....