Festival Erau Menjaga Api Tradisi di Tepian Mahakam

  • 20 Jun 2026 11:22 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.DO.ID, Bukittinggi - Bunyi tetabuhan Gamelan Sukalila yang magis bertalu-talu, memecah keheningan pagi di Kota Tenggarong. Di udara, aroma dupa kemenyan mengalir tipis, berpadu dengan riuh rendah ribuan pasang kaki yang memadati jalan-jalan protokol. Kabupaten Kutai Kartanegara kembali bersolek, menghidupkan kembali roh peradaban tertua Nusantara melalui perhelatan akbar: Festival Erau.

Bukan sekadar agenda pariwisata tahunan, Erau adalah ruang sakral tempat garis waktu masa lalu dan masa kini bertemu. Di sini, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menegaskan kembali eksistensinya sebagai penjaga api tradisi yang tak kunjung padam ditelan modernitas.

Dari Penobatan Raja hingga Pesta Rakyat Internasional

Secara etimologi, kata erau berasal dari bahasa lokal Kutai, yakni eroh, yang berarti ramai, riuh rendah, dan penuh sukacita. Secara historis, ritus ini telah bergulir sejak abad ke-13 masehi, pertama kali digelar saat penobatan Raja Kutai pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Menurut Awang Demang, salah satu kerabat Kesultanan Kutai, Erau adalah maklumat kultural, yang pada dahulu kala dilakukan oleh Sultan untuk mengumpulkan seluruh rakyat dari pedalaman hingga pesisir untuk bersyukur dan bersukaria selama 40 hari 40 malam. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini bermutasi secara dinamis.

Tanpa menghilangkan pakem sakral kesultanan, Festival Erau kini bertransformasi menjadi salah satu festival budaya internasional terbesar di Indonesia. Festival ini kerap bersanding dengan Erau International Folk Arts Festival (EIFAF), yang mempertemukan delegasi kesenian dunia—mulai dari Eropa, Asia, hingga Afrika—dengan eksotisme budaya Dayak dan Kutai di tanah Kalimantan.

Festival Erau. Sumber : pariwisataindonesia.id

Trilogi Ritual Sakral yang Menggetarkan Jiwa

Suatu perhelatan Erau tidak dapat dikatakan sah jika belum melewati tiga prosesi inti yang berjalan secara runut dan penuh dengan simbolisme spiritual, diantaranya:

Mendirikan Ayu: Titik Mula Maklumat Kesultanan

Festival resmi dimulai melalui upacara Mendirikan Ayu di dalam Ruang Sitihinggil Keraton (sekarang Museum Mulawarman). Ayu adalah tiang pusaka yang terbuat dari kayu jati, diikat dengan kain kuning, dan dipadukan dengan tombak pusaka. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Sultan atau putra mahkota, diiringi mantra kuno para Belian (pawang adat). Selama tiang ini berdiri tegak, seluruh rangkaian Erau dinyatakan resmi berlangsung.

Mengulur Naga: Manifestasi Asal-Usul Leluhur

Ini adalah puncak visual yang paling dinanti. Sepasang replika naga raksasa yang dibuat dengan detail ornamen naga Kutai diarak oleh ratusan pria berpakaian adat dari Keraton menuju dermaga Sungai Mahakam. Naga tersebut kemudian dinaikkan ke atas kapal palka untuk dibawa menyusuri sungai menuju Kutai Lama—tempat asal muasal leluhur raja-raja Kutai.

Di sana, tubuh naga dilarung ke air, sementara bagian kepala dan ekornya dibawa kembali ke keraton untuk disakralkan kembali. Prosesi ini adalah simbol penghormatan kepada penguasa air dan pengingat akan asal-usul silsilah raja.

Belimbur: Penyucian Massal Bumi Kutai

Begitu replika naga menyentuh air di Kutai Lama, sebuah tanda ditiupkan ke udara di Tenggarong. Saat itulah tradisi Belimbur dimulai, yakni sebuah ritual saling menyiramkan air ke sesama warga, pejabat, hingga wisatawan tanpa memandang kasta atau status sosial.

Menggunakan air yang diambil khusus dari hulu Sungai Mahakam yang disebut Air Tuli, ritual ini memiliki filosofi mendalam sebagai sarana pencucian diri dari unsur-unsur jahat, sifat buruk, dan marabahaya, sekaligus memohon berkah kesuburan bagi bumi Kutai.

Aturan Adat Belimbur di Era Modern

Untuk menjaga kesucian tradisi di tengah gempuran zaman, pihak Kesultanan Kutai bersama Pemerintah Daerah kini menerapkan aturan ketat (titah) dalam ber-Belimbur guna menghindari konflik sosial, diantaranya menggunakan air bersih, dan dilarang keras menggunakan air kotor, air parit, atau mencampurnya dengan zat kimia/warna.

Sedangkan etika menyiram nya, tidak boleh menyiram lansia, ibu hamil, bayi, serta petugas keamanan yang sedang berdinas. Dan, prosesi menyiram hanya diperbolehkan di area yang telah ditentukan di sepanjang jalur tepian Sungai Mahakam.

Jembatan Harmoni Pesisir dan Pedalaman

Salah satu kekuatan magis dari Festival Erau adalah kemampuannya menyatukan dua entitas besar Kalimantan Timur, Budaya Melayu Kutai (pesisir/sungai) dan Budaya Dayak (pedalaman).

Di pelataran kota, penonton disuguhi kontras yang indah. Di satu sudut, penari berpakaian sutra khas Kutai bergerak gemulai membawakan Tari Jepen. Di sudut lain, dentuman mandau dan gerakan ekspresif pemuda suku Dayak dengan pakaian berhias bulu burung enggang memaku pandangan para fotografer dunia.

Erau bukan lagi sekadar tontonan visual atau komoditas ekonomi kreatif yang mendongkrak PAD sektor pariwisata. Bagi mata dunia, Festival Erau Tenggarong adalah sebuah monumen hidup yang membuktikan bahwa di bawah kepakan sayap modernitas, peradaban masa lalu Nusantara tidak pernah mati. Ia terus mengalir bersama air Mahakam, merawat harmoni, dan menjaga marwah tanah Kutai Kartanegara. (NAS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....