Kasepuhan Ciptagelar: Menjaga Tradisi di Jantung Geopark Ciletuh

  • 09 Jun 2026 11:53 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, SUKABUMI – Di antara rimbunnya hutan tropis di kawasan Gunung Halimun-Salak, Sukabumi, Jawa Barat, terdapat sebuah permukiman yang seolah membeku dalam waktu. Kasepuhan Ciptagelar, sebuah kampung adat yang teguh memegang prinsip leluhur, kini menjadi bagian integral dari pesona wisata Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang diakui dunia.

Kehidupan yang Berakar pada Tradisi

Kasepuhan Ciptagelar merupakan komunitas adat yang dikenal karena kepatuhan mutlaknya terhadap warisan nenek moyang. Masyarakat di sini hidup dengan sistem gotong royong yang kuat, terutama dalam aktivitas pertanian. Salah satu identitas paling menonjol dari Kasepuhan Ciptagelar adalah tradisi menanam padi lokal yang hanya dilakukan sekali dalam setahun.

Bagi masyarakat Ciptagelar, padi bukanlah sekadar komoditas, melainkan sesuatu yang sakral. Mereka memiliki lumbung padi tradisional yang disebut leuit. Leuit menjadi simbol ketahanan pangan bagi warga; cadangan beras di dalamnya sering kali mampu mencukupi kebutuhan komunitas hingga bertahun-tahun ke depan, memastikan tidak ada warga yang mengalami kelaparan.

Harmoni antara Tradisi dan Teknologi

Salah satu hal yang paling menarik dari Kasepuhan Ciptagelar adalah cara mereka menyikapi modernitas. Berbeda dengan pandangan umum mengenai kampung adat yang tertutup, masyarakat Ciptagelar sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi.

Anda dapat menemukan perangkat elektronik modern, akses internet, hingga stasiun televisi komunitas yang dikelola sendiri oleh warga di tengah perkampungan adat tersebut. Namun, teknologi bagi mereka hanyalah alat bantu. Keberadaan teknologi tidak menggeser nilai-nilai adat; sebaliknya, teknologi justru dimanfaatkan untuk mendukung penyebaran informasi dan menjaga eksistensi kampung adat agar dikenal luas oleh dunia luar tanpa kehilangan akar budayanya.

Permata Budaya dalam Kawasan Geopark

Sebagai bagian dari Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Kasepuhan Ciptagelar menjadi magnet tambahan bagi para wisatawan yang datang ke kawasan Sukabumi. Jika Geopark Ciletuh menawarkan kemegahan geologi berupa tebing purba dan air terjun, Ciptagelar melengkapinya dengan kekayaan budaya manusia yang hidup selaras dengan alam.

Kepemimpinan di Kasepuhan Ciptagelar dijalankan oleh seorang Abah. Sang Abah bertindak sebagai penasihat spiritual sekaligus pemimpin komunitas yang mengarahkan warga untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan. Konsep pembagian wilayah di kampung ini juga sangat ketat, di mana kawasan hutan dibagi menjadi zona lindung dan zona kelola yang harus dihormati oleh setiap warganya.

Bagi para pelancong yang berkunjung, Ciptagelar menawarkan pengalaman digital detox yang otentik. Pengunjung dapat belajar langsung tentang cara hidup masyarakat adat, mencicipi hasil bumi yang segar, serta menikmati keindahan pemandangan pegunungan yang masih sangat alami.

Menjaga Masa Depan

Kasepuhan Ciptagelar bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah sekolah kehidupan tentang cara menghargai alam. Dengan tetap menjaga ritme hidup yang lambat namun pasti, Kasepuhan Ciptagelar mengajarkan bahwa kemajuan zaman dan integrasi ke dalam kawasan wisata global seperti Geopark Ciletuh tidak harus mengorbankan identitas budaya. Selama leuit masih berisi dan tradisi menanam padi tetap dilakukan, denyut nadi kehidupan di puncak Halimun ini akan terus terjaga bagi generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....