Peribahasa Bumi Dipijak Langit Dijunjung Jadi Pedoman Hidup Perantau
- 05 Mei 2026 10:40 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi salah satu pedoman hidup yang terus dijaga oleh masyarakat, khususnya di Sumatera Barat. Ungkapan ini mengandung makna mendalam tentang pentingnya menghormati adat istiadat, aturan, serta kebiasaan di tempat seseorang berada.
Peribahasa ini berakar dari filosofi masyarakat Minangkabau yang dikenal dengan tradisi merantau. Bagi para perantau, nilai ini menjadi pegangan utama agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tanpa menimbulkan konflik sosial.
Secara makna, ungkapan tersebut mengajarkan bahwa setiap individu wajib mematuhi norma dan budaya setempat. Ibarat menjunjung langit di tempat berpijak, seseorang dituntut untuk menjaga sikap, menghormati aturan, serta menunjukkan sopan santun sesuai dengan kebiasaan masyarakat sekitar.
Tujuan utama dari penerapan nilai ini adalah menciptakan kehidupan yang harmonis. Dengan menghormati adat setempat, seseorang akan lebih mudah diterima, dihargai, dan mampu membangun hubungan sosial yang baik di lingkungan baru, tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Nilai tersebut juga memiliki padanan dalam ungkapan internasional, seperti “When in Rome, do as the Romans do”, yang memiliki pesan serupa tentang pentingnya beradaptasi dengan kebiasaan lokal.
Dalam praktiknya, penerapan peribahasa ini dapat dilihat ketika seseorang merantau ke daerah lain. Ia diharapkan mengikuti aturan adat yang berlaku, menyesuaikan cara berkomunikasi, bahkan menggunakan bahasa daerah setempat jika diperlukan, serta menjaga etika dalam pergaulan sehari-hari.
Dengan demikian, peribahasa “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” tidak hanya menjadi ungkapan bijak, tetapi juga panduan nyata dalam membangun kehidupan sosial yang selaras di tengah keberagaman budaya. (ER/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....