Campur Kode (Bahasa Indonesia–Inggris), Keren atau Kehilangan Jati Diri?
- 25 Feb 2026 12:17 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pada saat sekarang ini, penggunaan bahasa campuran antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda. Dalam satu kalimat, kita bisa mendengar kata-kata seperti, “Aku lagi hectic banget minggu ini,” atau “Kayaknya itu ga relate deh.”
Fenomena ini dikenal sebagai campur kode. Campur kode sebenarnya bukan hal baru. Dalam kehidupan sehari-hari, orang sering mencampurkan dua bahasa, terutama jika mereka terbiasa menggunakan keduanya.
Di kota besar, penggunaan Bahasa Inggris dalam percakapan sering dianggap wajar, apalagi di lingkungan kerja, pendidikan, atau media sosial. Banyak istilah dalam Bahasa Inggris yang terasa lebih praktis atau sulit dicari padanannya dalam Bahasa Indonesia.
Selain itu, pengaruh globalisasi dan internet membuat Bahasa Inggris semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film, musik, media sosial, hingga dunia kerja banyak menggunakan istilah asing. Tanpa sadar, kosakata tersebut ikut terbawa ke dalam percakapan harian.
Bagi sebagian orang, campur kode terasa lebih ekspresif dan mengikuti perkembangan zaman. Namun, tidak sedikit yang merasa khawatir. Mereka menganggap kebiasaan mencampur bahasa bisa mengurangi rasa bangga terhadap Bahasa Indonesia.
Ada anggapan bahwa penggunaan Bahasa Inggris berlebihan bisa membuat seseorang terkesan ingin terlihat lebih modern atau lebih pintar. Jika terus dibiarkan, apakah ini bisa membuat Bahasa Indonesia tersisih di negaranya sendiri?
Sebenarnya, penggunaan campur kode tidak selalu berarti kehilangan jati diri. Bahasa bersifat dinamis dan terus berkembang. Sepanjang sejarah, Bahasa Indonesia juga banyak menyerap kata dari bahasa lain, seperti Sanskerta, Arab, Belanda, hingga Inggris.
Proses ini justru memperkaya kosakata dan membuat bahasa lebih fleksibel. Yang perlu diperhatikan adalah konteks penggunaannya. Dalam situasi formal seperti penulisan akademik, pidato resmi, atau dokumen penting, tentu penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap harus diutamakan.
Namun dalam percakapan santai atau media sosial, campur kode bisa menjadi bagian dari gaya komunikasi generasi tertentu.
Masalahnya bukan pada penggunaan dua bahasa, tetapi pada sikap terhadap bahasa itu sendiri. Jika seseorang tetap menghargai dan mampu menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik ketika diperlukan, maka campur kode tidak menjadi ancaman besar.
Justru kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa bisa menjadi nilai tambah di era global. Campur kode adalah cerminan perubahan sosial dan budaya. Dunia semakin terhubung, dan bahasa ikut menyesuaikan diri.
Dari pada melihatnya sebagai ancaman, mungkin lebih bijak jika kita memandangnya sebagai bagian dari perkembangan bahasa. Selama kita tetap menjaga kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik dan tidak melupakan akar budaya sendiri, identitas tidak akan mudah hilang.
Jadi, campur kode bisa saja terlihat keren, tetapi yang lebih penting adalah kesadaran untuk tetap menghargai bahasa sendiri. Karena bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga bagian dari jati diri bangsa. (UGP/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....