Work Life Balance Versi Anak Realistis
- 24 Feb 2026 14:14 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Work life balance versi anak realistis bukan soal hidup santai tanpa kerja keras, tapi tentang tetap waras di tengah tuntutan hidup. Banyak anak muda hari ini harus kerja, belajar, dan bangun masa depan secara bersamaan. Nggak heran kalau lelah mental sering dianggap hal biasa.
Data dari WHO menunjukkan bahwa stres kerja berlebihan berkontribusi pada meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi, terutama pada usia produktif 18–35 tahun. Di Indonesia sendiri, survei BPS mencatat jam kerja panjang masih umum dialami generasi muda di sektor formal dan informal. Kondisi ini bikin worklife balance terasa seperti konsep mahal yang sulit diwujudkan.
Versi realistisnya, worklife balance itu bukan soal membagi waktu sama rata, tapi mengelola energi dengan sadar. Ada hari di mana kerja harus dikejar, ada hari di mana istirahat jadi prioritas utama. Kuncinya bukan perfeksionisme, tapi kejujuran pada diri sendiri.
Anak muda juga perlu berhenti merasa bersalah saat memilih istirahat. Menurut riset Harvard Business Review, istirahat yang cukup justru meningkatkan fokus, kreativitas, dan produktivitas jangka panjang. Jadi, rehat bukan tanda malas, tapi bagian dari strategi bertahan hidup.
Pada akhirnya, worklife balance versi anak realistis adalah soal keberlanjutan. Hidup bukan lomba cepat, tapi perjalanan panjang yang butuh napas teratur. Kalau kamu masih berdiri, masih berusaha, dan masih peduli sama diri sendiri, itu sudah seimbang dengan caranya sendiri. (AMP/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....