Healing atau Hilang?

  • 18 Feb 2026 14:55 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kata healing sering sekali terdengar, terutama di media sosial. Sedikit stres, bilangnya butuh healing. Capek kerja, langsung cari tiket liburan. Habis putus cinta, unggah foto di pantai dengan caption tentang “menyembuhkan diri.” Tidak salah memang, tapi kadang muncul pertanyaan ini benar-benar proses pemulihan, atau sebenarnya hanya lari dari masalah? Secara sederhana, healing berarti proses memulihkan diri, baik secara mental maupun emosional. Ketika seseorang merasa lelah, kecewa, atau tertekan, wajar jika ia ingin menenangkan diri. Pergi jalan-jalan, menikmati alam, mencoba hobi baru, atau sekadar istirahat dari rutinitas bisa membantu pikiran lebih jernih. Dalam kondisi tertentu, mengambil jeda memang penting agar kita tidak semakin kewalahan.

Namun, yang sering terjadi adalah healing dijadikan alasan untuk menghindari kenyataan. Misalnya, seseorang punya konflik dengan teman atau pasangan, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, ia memilih menghilang dan pergi liburan tanpa komunikasi. Atau ada tugas dan tanggung jawab yang menumpuk, tetapi justru ditunda dengan alasan ingin self-care. Jika dilakukan terus-menerus, ini bukan lagi proses penyembuhan, melainkan bentuk penghindaran. Perlu diakui, menghadapi masalah memang tidak nyaman. Membicarakan konflik, mengakui kesalahan, atau menerima kenyataan pahit butuh keberanian. Dibandingkan itu, bepergian ke tempat baru atau menyibukkan diri dengan hal menyenangkan terasa jauh lebih mudah. Di sinilah batas antara healing dan lari dari masalah menjadi tipis.

Healing yang sehat seharusnya membantu kita kembali dengan kondisi lebih siap menghadapi situasi. Misalnya, setelah menenangkan diri, kita jadi lebih tenang untuk berdiskusi, lebih jujur pada diri sendiri, atau lebih kuat mengambil keputusan. Artinya, jeda yang diambil punya tujuan jelas, bukan sekadar pelarian sementara. Selain itu, healing tidak selalu harus mahal atau jauh. Tidak harus selalu ke luar kota atau menginap di hotel estetik. Kadang, istirahat cukup, membatasi media sosial, olahraga ringan, atau berbicara dengan orang terpercaya sudah termasuk bentuk self-care yang nyata. Intinya bukan pada tempatnya, tetapi pada prosesnya.

Ada juga tekanan sosial yang membuat healing terlihat seperti tren. Media sosial sering menampilkan gambaran bahwa menyembuhkan diri identik dengan liburan, kopi di kafe cantik, atau foto dengan latar pemandangan indah. Tanpa sadar, orang jadi merasa harus melakukan hal yang sama agar dianggap “sedang memperbaiki diri.” Padahal, proses setiap orang berbeda. Pada akhirnya, healing memang penting. Kita semua butuh waktu untuk bernapas dan menenangkan pikiran. Namun, kehidupan tetap berjalan, dan masalah tidak akan selesai hanya dengan menjauh. Kadang, proses penyembuhan yang sesungguhnya justru terjadi ketika kita berani menghadapi apa yang selama ini dihindari.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....