Tradisi Malamang di Kenagarian Palupuh!!

  • 18 Feb 2026 10:12 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Di tengah sejuknya perbukitan dan kuatnya adat Minangkabau, masyarakat Kenagarian Palupuh memiliki sebuah tradisi kuliner yang sarat makna, yaitu malamang. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan memasak lemang, melainkan wujud kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap adat dan agama yang telah diwariskan turun-temurun.

Malamang adalah proses memasak lamang (lemang), makanan tradisional berbahan dasar beras ketan dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu, lalu dibakar di atas bara api. Di Kenagarian Palupuh, kegiatan ini biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadan, perayaan hari besar Islam seperti Idulfitri dan Iduladha, serta pada acara adat tertentu.

Lamang yang telah matang biasanya disajikan bersama tapai (fermentasi ketan hitam) atau lauk pauk khas Minangkabau. Rasanya gurih, harum asap bambu, dan memiliki tekstur lembut yang khas.

Tradisi malamang dilakukan secara berkelompok. Kaum laki-laki umumnya bertugas menyiapkan bambu dan membakar lemang, sedangkan perempuan menyiapkan bahan seperti beras ketan, santan, dan daun pisang untuk pelapis bambu.

  • Persiapan Bambu : Bambu dipotong sesuai ukuran, dibersihkan, dan dilapisi daun pisang.
  • Pengisian Adonan : Beras ketan yang telah dicampur santan dan sedikit garam dimasukkan ke dalam bambu.
  • Proses Pembakaran : Bambu disusun miring di dekat bara api dan diputar secara berkala agar matang merata.
  • Penyajian : Setelah matang, bambu dibelah dan lamang dipotong sesuai selera.

Proses ini bisa memakan waktu beberapa jam, sehingga menjadi momen berkumpul dan bercengkerama antarwarga.Bagi masyarakat Kenagarian Palupuh, malamang bukan sekadar memasak, melainkan symbol Kebersamaan yang Dikerjakan secara gotong royong ,Silaturahmi Menjadi ajang mempererat hubungan antar keluarga dan tetangga ,Pelestarian Adat yang Mengajarkan generasi muda tentang pentingnya tradisi Minangkabau serta Spiritualitas yang Dilaksanakan menjelang momen-momen religius sebagai bentuk rasa syukur.

Tradisi ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Sehingga Di era modern, tradisi malamang menghadapi tantangan berupa perubahan gaya hidup dan berkurangnya minat generasi muda terhadap kegiatan tradisional. Namun demikian, masyarakat Kenagarian Palupuh tetap berupaya menjaga keberlanjutannya melalui pelibatan pemuda dalam setiap kegiatan adat dan perayaan keagamaan.Pelestarian malamang tidak hanya menjaga warisan kuliner, tetapi juga mempertahankan identitas budaya dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau. Tradisi malamang di Kenagarian Palupuh adalah warisan budaya yang kaya makna. Di balik aroma harum lamang yang dibakar, tersimpan nilai gotong royong, persaudaraan, dan keimanan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat penting di tengah arus modernisasi.

Sumber : NHY

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....