Teknik Psikologi Marketing yang Sering Dipakai Brand Besar
- 01 Sep 2026 07:57 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pernah bertanya-tanya kenapa kita tiba-tiba ingin membeli produk hanya karena tulisan “stok terbatas”, melihat banyak orang memberikan ulasan positif, atau mendapatkan iklan yang terasa seperti dibuat khusus untuk kita?.
Di balik strategi tersebut ada psikologi marketing, yaitu pemanfaatan cara berpikir, emosi, dan perilaku konsumen untuk membuat pesan pemasaran terasa lebih relevan dan mendorong seseorang mengambil keputusan.
Salah satu teknik yang sering digunakan adalah social proof, yaitu membuat konsumen melihat bahwa banyak orang lain sudah menggunakan, menyukai, atau merekomendasikan sebuah produk. Penelitian yang terbit di Journal of Retailing and Consumer Services pada 2025 menemukan bahwa jumlah likes dan komentar dalam konten video pendek dapat meningkatkan kecenderungan konsumen melakukan pembelian impulsif.
Teknik berikutnya adalah scarcity atau kelangkaan, misalnya melalui kalimat “tinggal 3 lagi”, “limited edition”, atau “promo berakhir malam ini”, yang menciptakan rasa urgensi. Riset terbaru dalam Psychology & Marketing yang diterima pada Juli 2026 menunjukkan bahwa berbagai tanda kelangkaan di e-commerce dapat meningkatkan persepsi konsumen terhadap kelangkaan, meskipun efeknya dapat berbeda tergantung jenis pesan yang digunakan.
Brand besar juga semakin mengandalkan personalized marketing, yaitu menyampaikan pesan berdasarkan minat, kebutuhan, atau perilaku konsumen sehingga iklan terasa lebih personal.
Meta-analisis terhadap 53 studi eksperimen yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa iklan yang dipersonalisasi secara umum lebih efektif daripada iklan generik dalam memengaruhi persuasi, sikap konsumen, dan niat berperilaku, terutama ketika pesan dianggap relevan.
Pada akhirnya, psikologi marketing bukan sekadar trik untuk membuat orang membeli, tetapi tentang memahami alasan manusia mengambil keputusan dan menciptakan komunikasi yang lebih relevan.
Mulai dari social proof, scarcity, storytelling, hingga personalisasi, strategi tersebut akan jauh lebih efektif jika digunakan secara jujur dan memberikan nilai nyata, karena konsumen masa kini bukan hanya ingin diyakinkan untuk membeli, tetapi juga ingin merasa bahwa sebuah brand benar-benar memahami kebutuhannya. (RF/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....