Mengikis Stigma ‘Parasit’ bagi Anak-Anak Istimewa

  • 22 Jun 2026 22:25 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi. Pagi itu di tahun 2009, sebuah langkah kaki membawa Yusni ke sebuah sudut di Nagari Pinjauan, Kabupaten Tanah Datar. Sebagai seorang Petugas Sosial Masyarakat (PSM) yang tengah mendata anak-anak berkebutuhan khusus, ia mengira hari itu akan berjalan biasa saja. Namun, takdir mempertemukannya dengan sebuah pemandangan yang menyayat hati.

Di sana, ia menemukan seorang anak disabilitas yang terasing. Bukan karena orang tuanya kejam, melainkan karena kemiskinan dan ketidaktahuan. Sang anak ditinggal pagi dan pulang sore tanpa pengawasan, hingga sering kali memakan kapas karena lapar.

Kejadian memilukan itu menjadi pemantik sebuah mimpi besar. Dari sebuah panti asuhan kecil yang dirintis dengan mencari donatur dari pintu ke pintu, kini mimpi itu telah bertransformasi menjadi Yayasan SLB Warakil Jannah, sebuah rumah harapan bagi anak-anak yang kerap dianggap "luput dari perhatian".

Panggilan Jiwa Seorang Ibu

Bagi Yusni, perjuangan ini bukan sekadar tugas sosial. Ini adalah perpanjangan tangan dari takdir hidupnya sendiri. Ia adalah ibu dari dua anak penyandang Down Syndrome. "Kalau bukan karena anak saya, mungkin sekolah ini tidak akan pernah berdiri," ungkapnya dengan suara bergetar namun penuh ketegasan.

Berbekal pengalaman pribadi merawat darah dagingnya sendiri—yang salah satunya kini tumbuh mandiri bahkan mahir menjahit dan membordir— Yusni menepis segala teori kaku. Ia membuktikan bahwa di tangan yang tepat, keterbatasan bisa melahirkan keajaiban.

Menepis Stigma "Parasit" dengan Aksi Nyata

Mengangkat "Bukan Parasit" sebagai salah satu tema program Kita Setara Pro 1 RRI Bukittinggi, bukan tanpa alasan. Di masyarakat, bahkan di kalangan keluarga sendiri, anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) sering kali diposisikan sebagai beban.

Ada orang tua yang malu, menyembunyikan mereka, atau justru terlalu memanjakan hingga sang anak kehilangan daya hidup. Sedangkan Yusni memilih jalan yang berbeda. Di SLB Warakil Jannah yang kini menampung sekitar 60 siswa, kemandirian adalah harga mati.

Dua Jalur Menuju Kemandirian

Di SLB ini terbagi dua klasfikasi yang berbeda dari segi cara pengajaran nya, yakni Bina Diri untuk disabilitas berat, di sini anak-anak dilatih hal-hal mendasar yang sering dianggap sepele, seperti belajar mencuci baju dengan sabun batangan, melipat pakaian, memasak, dan membersihkan rumah. Targetnya sederhana namun berdampak besar, agar mereka bisa diterima kembali di tengah keluarga tanpa merepotkan orang lain.

Lalu ada pengembangan Vokasional bagi disabilitas ringan, mereka masih memiliki kemampuan lebih, sehingga sekolah menggali bakat mereka tanpa batas. Mulai dari bertani cabai, membatik, kerajinan kayu, bermain musik, hingga olahraga ekstrem seperti skateboard dan karate.

Hebatnya, kurikulum berbasis keterampilan ini bukan sekadar pengisi waktu. Produk batik dan kerajinan kayu karya siswa SLB Warakil Jannah kini telah merambah pasar, bahkan sempat ditunjuk untuk mewakili Provinsi Sumatera Barat dalam pameran nasional di Jakarta.

Ibu Yusni, Kepala Sekolah & Pendiri Yayasan SLB Waraqil Jannah. Sumber: RRI

Melawan Arus Stigma Masyarakat

Perjalanan 15 tahun merintis sekolah swasta tentu bukan tanpa kerikil. Tantangan terbesar Ibu Yusni bukanlah dana atau fasilitas yang terbatas, melainkan stigma dan pola pikir. Ia bercerita tentang seorang anak yang sempat ditarik dari sekolah oleh keluarganya karena ejekan lingkungan.

“Kok disekolahkan di SLB, nanti tambah bodoh,” tiru Yusni mengingat ucapan masa lalu. Namun, ia tidak berdebat dengan kata-kata; ia menjawabnya dengan prestasi. Anak tersebut dibina hingga akhirnya berhasil menyabet juara tiga tingkat nasional di bidang seni melukis.

Sekolah ini juga beruntung memiliki 11 guru hebat yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi dengan hati. Jika ada keterampilan khusus yang tidak dikuasai guru, Yusni tidak ragu mendatangkan instruktur luar demi masa depan anak didiknya.

Setara di Mata Tuhan

Kini, angin perubahan mulai berembus. Masyarakat dan dunia kerja perlahan mulai membuka pintu bagi lulusan SLB. Beberapa alumni Warakil Jannah kini telah bekerja secara mandiri di rumah makan, konveksi, hingga sanggar batik.

Bagi Yusni, setiap manusia diciptakan dengan paket kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tugas kita yang berada di sekeliling mereka adalah menjadi jembatan, bukan dinding pembatas. "Anak berkebutuhan khusus itu punya potensi, hak, dan peran yang sama. Mereka bukanlah beban, melainkan bagian dari masyarakat yang bisa tumbuh, berkarya, dan berkontribusi jika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat. Di mata Tuhan, kita semua sama." (Afn)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....