Belajar Bilang “Tidak” tanpa Merasa Ga Enak
- 30 Mar 2026 21:30 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pernah ngga sih, kamu bilang “iya” padahal sebenarnya pengen bilang “ngga”?
Lagi capek, tapi tetap ikut. Lagi banyak kerjaan, tapi tetap nerima tambahan. Lagi pengen sendiri, tapi tetap datang karena takut dibilang ngga asik. Awalnya kelihatan biasa aja. Tapi lama-lama capeknya numpuk. Banyak orang susah bilang “tidak” karena takut bikin orang lain kecewa. Takut dibilang berubah. Takut dianggap egois. Jadi lebih pilih ngalah, walaupun diri sendiri yang jadi korban.
Padahal, bilang “tidak” itu hal yang wajar banget. Kita ini punya tenaga terbatas. Punya waktu yang juga nggak banyak. Kalau semuanya dikasih ke orang lain, kapan kita istirahat? Kapan kita ngurus diri sendiri? Dulu saya juga begitu. Kalau ada yang minta tolong, langsung jawab, “Oke.” Ngga pakai mikir panjang. Rasanya senang bisa bantu. Tapi makin ke sini, rasanya kok malah gampang kesal. Mudah lelah. Waktu buat diri sendiri hampir nggak ada. Ternyata masalahnya bukan di orang lain. Tapi di saya yang nggak pernah pasang batas.
Belajar bilang “tidak” itu memang nggak langsung berani. Awalnya kikuk banget. Waktu pertama kali nolak ajakan nongkrong karena lagi capek, rasanya bersalah. Takut dibilang sombong. Eh ternyata responsnya biasa aja. “Yaudah, istirahat aja.” Sesimpel itu. Kadang kita yang terlalu drama di kepala sendiri. Sebenarnya, orang lain belum tentu marah kalau kita nolak. Selama cara ngomongnya baik, mereka biasanya ngerti. Nggak perlu pakai alasan panjang. Nggak perlu cerita detail. Cukup bilang, “Maaf ya, kali ini aku ngga bisa.” Itu sudah cukup. Yang bikin berat itu cuma perasaan nggak enaknya. Tapi coba pikir, lebih ngga enak mana? Nolak sekali, atau terus-terusan capek dan kesel sendiri?
Bilang “tidak” bukan berarti kita jahat. Bukan berarti nggak peduli. Itu cuma tanda kalau kita tahu batas. Kita tahu kapan sanggup, kapan ngga. Sekarang sebelum jawab sesuatu, saya biasa berhenti sebentar. Tanya ke diri sendiri, “Aku mau ngga? Aku sanggup ngga?” Kalau jawabannya terasa berat, berarti memang nggak usah dipaksakan. Lucunya, setelah mulai berani nolak, hidup terasa lebih ringan. Ngga gampang kesal. Ngga gampang capek. Dan orang-orang tetap baik-baik aja. Ngga ada yang menjauh cuma karena saya bilang “tidak” sekali dua kali. Kita ngga harus selalu jadi orang yang siap sedia 24 jam. Kita juga manusia. Butuh istirahat. Butuh waktu sendiri.
Jadi kalau hari ini kamu lagi lelah karena terlalu sering bilang “iya”, coba deh pelan-pelan belajar bilang “tidak”. Mulai dari hal kecil. Ngga usah langsung drastis. Ingat, menjaga diri sendiri itu bukan egois. Itu penting. Dan percaya deh, dunia tetap berjalan walaupun kamu sesekali bilang, “ngga dulu ya.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....