Bacang Legendaris, Dari Tradisi Tionghoa ke Lidah Nusantara
- 14 Feb 2026 17:53 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Siapa sangka jajanan tradisional berbentuk limas ini pernah menjadi simbol ritual dan kini jadi favorit semua kalangan? Bacang, yang akrab di lidah masyarakat Jawa Barat, menyimpan sejarah panjang akulturasi budaya Tionghoa-Indonesia.
Awalnya dikenal sebagai bakcang dalam tradisi Peh Cun, kuliner ini lahir dari penghormatan rakyat kepada Qu Yuan. Bungkusan nasi ketan berisi daging dan kacang itu awalnya dilempar ke sungai untuk melindungi jenazahnya dari makhluk air.
Seiring waktu, bakcang berubah dari makanan ritual menjadi camilan populer. Di Indonesia, bacang beradaptasi dengan bahan lokal, menggantikan daging babi dengan ayam, sapi, atau isian nabati agar lebih diterima masyarakat.
Selain bahan, cara membungkus pun bertransformasi. Daun pandan atau daun pisang menggantikan daun bambu, memberi aroma khas Nusantara sekaligus mempertahankan filosofi keterikatan dan kebersamaan. Rasa bacang pun ikut menyesuaikan lidah lokal. Tekstur lembut, pedas-gurih, atau aroma rempah khas Sunda membuatnya berbeda dari versi Tiongkok yang lebih lengket dan dominan manis-gurih.
Popularitas bacang kini menjangkau banyak kota, dari Bandung hingga Jakarta. Makanan ini bukan sekadar camilan, tapi juga bukti dialog budaya yang hidup dan berkelanjutan di Nusantara. Kesimpulannya, bacang menjadi simbol akulturasi yang lezat dan relevan, menghubungkan tradisi Tionghoa dengan cita rasa masyarakat lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....