RRI.CO.ID, Bukittinggi - Cahaya laut atau bioluminesensi adalah, sebuah fenomena yang menabjubkan dimana organisme laut, terutama fitoplangton, menghasilkan cahaya biru, hijau dan alami saat terganggu oleh gerakan ombak atau perahu. Dan hal ini sering terjadi di pantai seluruh dunia termasuk Indonesia.
Bioluminesensi adalah kemampuan organisme hidup untuk menciptakan cahaya sendiri, yang menggunakan reaksi kimia. Bioluminnesensi adalah reaksi kimia yang terjadi ketika molekul pemancar cahaya bereaksi. Produk tersebut adalah foton cahaya. Beberapa hewan seperti ikanangler, yang tidak menghasilkan cahaya sendiri. Bahkan mereka bergantung pada alga simbiosis yang ada dalam tubuh mereka.
Biolumenensis paling umum berwarna biru kehijauan mungkin karena panjang gelombang pendek cahaya biru dan hijau menempuh jarak yang lebih jauh di laut. Hewan tersebut memancarkan cahaya merah, yang membantu melihat benda di laut dalam.
Hewan laut dalam hidup di lingkungan dimana cahaya biru redup bersinar di atas. Di darat, fenomena bioluminesensi jarang terjadi, terbatas pada kunang kunang, beberapa jamur caing bercahaya dan beberapa organisme lainnya. Tetapi di lautan hewan bioluminensi menciptakan pertunjukan cahaya bawah laut.
| Baca juga: Asal Usul dan Sejarah Lampu Teplok |
Penghuni laut dalam yang bercahaya dan berukuran lebih besar meliputi ubur ubur, berbagai jenis cumi cumi, ikan senter, ikan kapak, ikan naga, dan lainnya. Kita dapat menyakdsikan fenomena alam ketika terdapat banyak biolumenesensi di dalam air,.Laut akan bercahaya ketika terganggu oleh gelombang yang pecah atau percikan air di malam hari. Peristiwa kilauan laut iniadalah akibat dari konsis laut yang tenang dan hangat.
Sumber berita; ocean.si.edu
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....