Strategi Storytelling untuk Meningkatkan Engagement
- 28 Agt 2026 10:57 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Di tengah banjir konten di media sosial, orang tidak selalu berhenti karena melihat produk yang bagus, tetapi karena menemukan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan mereka. Data Snapcart pada Juli 2025 terhadap 964 responden di Indonesia menunjukkan bahwa 78% responden merasa storytelling membantu mereka memahami nilai sebuah brand, sementara 67% mengaku sering melakukan pembelian setelah tersentuh oleh iklan yang emosional.
Tips pertama, jangan langsung menjual produk tapi mulailah dengan masalah atau pengalaman yang familiar bagi audiens. Misalnya, daripada mengatakan “produk kami berkualitas”, ceritakan pengalaman pelanggan yang awalnya kesulitan, kemudian menemukan solusi melalui produk tersebut sehingga audiens merasa, “Wah, ini gue banget.”
Kedua, buat cerita yang sederhana tetapi punya emosi dan alur yang jelas, ada masalah, perjuangan, titik balik, lalu solusi. Penelitian tahun 2025 tentang storytelling dalam iklan juga menemukan bahwa keterlibatan emosional memiliki pengaruh positif terhadap kepercayaan terhadap brand, sehingga cerita yang mampu menyentuh perasaan punya peluang lebih besar untuk membangun koneksi.
Ketiga, jadikan audiens sebagai bagian dari cerita, bukan sekadar penonton. Gunakan pertanyaan seperti “Pernah mengalami hal yang sama?” atau “Kalau kamu ada di posisi ini, apa yang akan kamu lakukan?” agar mereka terdorong untuk berkomentar, membagikan pengalaman, atau meneruskan cerita tersebut; apalagi tren pemasaran 2025 menunjukkan bahwa brand semakin perlu memahami audiens dan memilih cara komunikasi berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.
Pada akhirnya, storytelling bukan tentang membuat cerita yang dramatis atau sempurna, tetapi tentang menemukan cerita yang manusiawi dan relevan. Jadi, sebelum membuat konten berikutnya, jangan hanya bertanya “Apa yang mau saya jual?”, tetapi tanyakan juga, “Cerita apa yang bisa membuat orang merasa dipahami?”, karena engagement sering kali dimulai bukan dari produk, melainkan dari perasaan bahwa sebuah cerita benar-benar berbicara kepada kita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....